Auckland mulai dingin, dan tiba-tiba saya kembali dalam suasana bulan Ramadhan, padahal rasanya baru saja kemarin Idul Fitri dan Idul Adha 2014 dilewati. Tak terasa satu tahun berlalu dengan cepat kini sudah di pertengahan tahun 2015. Tiap tahun, Ramadhan dan Idul Fitri selalu berbeda. Jika tahun 2014 tahun lalu, saya merasa bahwa memulai bulan Ramadhan tidaklah mudah mengendalikan hati dan pikiran. Saat itu pilpres yang waktunya bersamaan dengan bulan puasa dan seumur hidup tak pernah terbayangkan bahwa pilpres yang saat itu hanya diikuti 2 kandidat bisa menjadi pertarungan hebat dari para pendukung masing-masing kubu. Akibatnya teman facebook saya yang memang amat terbatas dan hanya sedikit itu telah membuat saya pusing tujuh keliling, karena hilangnya kenikmatan membaca status-status menarik dan berganti dengan kampanye. Juga twitter yang campur aduk. Bahkan ada yang bisa melakukannya setiap hari dan berlanjut setelah pemilihan sekalipun. Sampai-sampai saya memutuskan...