The Grande Mosquée, Bahasa Korea dan Museum
Paris, dikenal sebagai kota yang cantik, kiblat mode, makanan enak dan juga museum-museum nya yang terkenal seperti Musée du Louvre, Musée d'Orsay dan Musée Rodin. Selain itu, karena telah membaca tentang sejarah dan kehidupan muslim di Perancis, maka jadwal berkunjung ke masjid besar The Grande Mosquée de Paris yang terkenal di kalangan kaum muslimin itu masuk dalam daftar kunjungan, terutama karena adanya kisah tentang para muslim yang saat itu menyelamatkan kaum Yahudi dari holocaust dan juga saat perang dunia ke 2.
Agar sempurna alasan tersebut, yang paling tepat adalah sengaja pergi untuk sholat Jumat ke masjid tersebut. Maka inilah salah satu tujuan wisata bagi kami di Paris. Jika dilihat dari peta, tempat pemberhentian bis terdekat ke arah masjid adalah di Notre Dame Cathedral. Dari situ kami harus berjalan kaki sekitar 15-20 menit. Naik taksi lebih mudah pastinya. Tapi seperti rencana semula, kami ingin melihat kehidupan Paris dari segala sisi lebih dekat.Sehingga kami pikir, jika berjalan kaki dari Notre Dame ke The Grande Mosquée kemungkinan lebih memuaskan keinginan tersebut.

Maka kamipun mulai melakukan tour pagi hari dengan modal Hop On - Hop Off bus yang tiketnya memang telah kami miliki untuk 2 hari tour. Hari itu, rasanya saya tidak sabar untuk melihat masjid yang menurut beberapa sumber yang saya baca, merupakan masjid yang dikelilingi beberapa tempat makan, cafe dan restoran yang memang terbuka untuk umum. Bahkan ada Turkish bath terkenal yang disebut Le Hammam berada di dalam area masjid.
Bis yang kami tumpangi berhenti di Notre Dame Cathederal, kami turun lalu meneruskan dengan berjalan kaki memakai GPS di telepon genggam. Walaupun ada sedikit perdebatan dan olok-olok antara GPS Google dan iPhone tapi kami tetap menikmati suasana di sepanjang jalan menuju masjid. Yang paling menarik bagi anak-anak adalah toko-toko coklat, bakery dan sejenisnya yang aromanya begitu memikat selera. Terutama macaroons berukuran besar dan cara membungkus roti-roti yang kami beli dengan cara yang sangat rapi dan menarik, sehingga jika ada coklat atau krim di atas roti tersebut, maka hiasan tersebut tidak rusak. Toko coklat dan cara pembuatannya juga menjadi atraksi tersendiri yang menarik.
Akhirnya, sampailah kami di masjid besar Paris, dan benarlah bahwa di sekeliling masjid memang banyak terdapat pilihan makanan halal mulai dari tempat untuk minum teh, cafe dan restoran pun ada. Suami dan anak saya yang laki-laki bergegas memasuki masjid, sementara kami mencari di bagian lain dari bangunan masjid yang diperuntukkan bagi perempuan. Karena masih ada waktu sekitar 30-40 menit sebelum sholat, maka saya dan Aliyya memutuskan untuk berjalan mengelilingi bangunan masjid untuk melihat-lihat.
Tak disangka kami temukan sebuah restoran Korea di samping masjid. Karena perut yang lapar, maka masuklah kami kesana. Langsung pertanyaannya "English?" dan pemilik resto menjawab "No". Maka Aliyya langsung menyapanya dengan bahasa Korea, sejenak pemilik terbelalak dan langsung menjawab super ramah karena kaget ada anak yang bisa bahasa Korea dengan fasih, padahal ibunya berkerudung. Saya jadi senyum-senyum sendiri melihat dan mendengar percakapan mereka. Kami hanya makan-makanan kecil sepiring berdua, lalu kembali ke masjid untuk mengikuti sholat Jumat.
Selesai sholat, kami jajan roti-roti yang wangi dan menarik di sepanjang jalan, lalu melanjutkan perjalanan ke Museum Rodin atau Musée Rodin. Sadar kalau ke museum tidak bisa sebentar, maka untuk ke museum yang lainnya kami putuskan untuk pergi esok harinya. Memiliki anak-anak yang hobinya membaca bisa berujung menjadi peminat museum, karena isinya tentang sejarah. Sehingga mereka tidak akan pernah kecewa jika tidak diajak ke boutique atau mall untuk belanja. Menurut mereka, banyak hal yang mereka bicarakan tentang isi museum dan tentu saja banyak hal yang lebih menarik disana.

Tiba-tiba saya jadi kangen dengan almarhum bapak saya. Zaky tidak pernah bertemu dengan eyang kakungnya, karena eyangnya meninggal dunia setahun sebelum dia lahir. Kadangkala saat-saat seperti ini membuat saya terkenang bapak karena kecintaan beliau akan buku dan sejarah. Barangkali akan banyak pembicaraan menarik antara Zaky dan eyangnya jika saja beliau masih ada. Kami pulang sudah mulai gelap, dengan badan lelah karena lama berjalan di udara dingin dan sampai di apartment rasanya hanya ingin sesuatu yang hangat dan mengumpulkan energi untuk kembali ke museum yang lain esok hari.
Besoknya, saya agak malas keluar karena kemarin sudah melihat sendiri, sehingga tidak terlalu suka membayangkan antrian panjang di museum yang bakalan dirasakan dalam udara dingin. Malam sebelumnya saya telah mendapatkan foto-foto cantik Musée du Louvre yang menakjubkan itu, tapi memang rasanya tidak cukup.
Saya melihat foto-foto Musée du Louvre jauh sebelum pergi ke Paris. Setiap bagian arsitekturnya, buat saya amat menarik dan rasanya jika kita bisa membuat foto-foto bangunan museum di malam hari, sempatkan juga untuk mengambil gambar siang hari. Foto yang dihasilkan memiliki suasana yang amat berbeda sensasinya. Walaupun saya sering melihat foto-fotonyanya di Flicks, Pinterest, buku-buku fotografi bahkan di instagram. Rasanya masih juga terpesona dengan design dan arsitekturnya yang begitu cantik dan indah. Selain Museum ini, saya juga masih penasaran dengan arsitektur Museum Nasional London.
Yang pasti, untuk antri, menjelajah ke dalam museum dan diskusi dengan anak-anak bisa menghabiskan waktu 3-5 jam hanya di satu tempat. Jadi itu sebabnya kami tidak bisa tinggal di kota Paris untuk 2-3 hari saja. Karena kenikmatan anak-anak menjelajahi kota, museum dan mencoba banyak hal, setidaknya perlu waktu 4 hari penuh. Sisanya ya 1 hari untuk kedatangan dan 1 hari untuk keberangkatan. Kenikmatan setiap orang memang berbeda, dan bagi kami melihat kehidupan dari dekat, tinggal di apartment, menjelajahi museum, mencari tahu banyak hal, sering berjalan kaki dan naik transportasi umum adalah hal yang menyenangkan. Kami menikmati Paris secara total selama 6 hari dan walaupun kunjungan ke Museum mengkonsumsi banyak waktu, tapi memang ternyata itulah yang dinikmati anak-anak. Jadi tak ada yang sia-sia.

Tempat wisata lain yang menarik di kota ini, adalah berjalan-jalan di Montmartre. Montmartre dulunya adalah desa kecil dan kini menjadi tempat wisata dimana didalamnya terdapat pasar souvenir dan barang antik, gereja bersejarah Basilica of Sacre-Coeur yang biasa disebut gereja putih yang telah ada sejak jaman dulu dan disini pula tempat berkumpulnya penulis puisi dan para artis Perancis sehingga banyak dijual kartu pos yang bergambar lukisan-lukisan cantik dan puisi.
Montmartre yang letaknya tinggi di atas bukit, bisa menjadi tempat yang bagus untuk berfoto dan melihat pemandangan kota Paris. Jalanannya kecil-kecil seperti gang jalan kalau di Indonesia. Itu sebabnya mobil hanya bisa parkir di tempat-tempat tertentu saja. Jika suka Nutella, Paris adalah surga, karena di tempat inipun jajanan dengan isi, topping sampai cocolan Nutella banyak macamnya. Karena dijual di banyak tempat seperti cafe dan juga restoran-restoran mungil tapi keren.
Agar sempurna alasan tersebut, yang paling tepat adalah sengaja pergi untuk sholat Jumat ke masjid tersebut. Maka inilah salah satu tujuan wisata bagi kami di Paris. Jika dilihat dari peta, tempat pemberhentian bis terdekat ke arah masjid adalah di Notre Dame Cathedral. Dari situ kami harus berjalan kaki sekitar 15-20 menit. Naik taksi lebih mudah pastinya. Tapi seperti rencana semula, kami ingin melihat kehidupan Paris dari segala sisi lebih dekat.Sehingga kami pikir, jika berjalan kaki dari Notre Dame ke The Grande Mosquée kemungkinan lebih memuaskan keinginan tersebut.
Maka kamipun mulai melakukan tour pagi hari dengan modal Hop On - Hop Off bus yang tiketnya memang telah kami miliki untuk 2 hari tour. Hari itu, rasanya saya tidak sabar untuk melihat masjid yang menurut beberapa sumber yang saya baca, merupakan masjid yang dikelilingi beberapa tempat makan, cafe dan restoran yang memang terbuka untuk umum. Bahkan ada Turkish bath terkenal yang disebut Le Hammam berada di dalam area masjid.Akhirnya, sampailah kami di masjid besar Paris, dan benarlah bahwa di sekeliling masjid memang banyak terdapat pilihan makanan halal mulai dari tempat untuk minum teh, cafe dan restoran pun ada. Suami dan anak saya yang laki-laki bergegas memasuki masjid, sementara kami mencari di bagian lain dari bangunan masjid yang diperuntukkan bagi perempuan. Karena masih ada waktu sekitar 30-40 menit sebelum sholat, maka saya dan Aliyya memutuskan untuk berjalan mengelilingi bangunan masjid untuk melihat-lihat.
Tak disangka kami temukan sebuah restoran Korea di samping masjid. Karena perut yang lapar, maka masuklah kami kesana. Langsung pertanyaannya "English?" dan pemilik resto menjawab "No". Maka Aliyya langsung menyapanya dengan bahasa Korea, sejenak pemilik terbelalak dan langsung menjawab super ramah karena kaget ada anak yang bisa bahasa Korea dengan fasih, padahal ibunya berkerudung. Saya jadi senyum-senyum sendiri melihat dan mendengar percakapan mereka. Kami hanya makan-makanan kecil sepiring berdua, lalu kembali ke masjid untuk mengikuti sholat Jumat.
Selesai sholat, kami jajan roti-roti yang wangi dan menarik di sepanjang jalan, lalu melanjutkan perjalanan ke Museum Rodin atau Musée Rodin. Sadar kalau ke museum tidak bisa sebentar, maka untuk ke museum yang lainnya kami putuskan untuk pergi esok harinya. Memiliki anak-anak yang hobinya membaca bisa berujung menjadi peminat museum, karena isinya tentang sejarah. Sehingga mereka tidak akan pernah kecewa jika tidak diajak ke boutique atau mall untuk belanja. Menurut mereka, banyak hal yang mereka bicarakan tentang isi museum dan tentu saja banyak hal yang lebih menarik disana.
Tiba-tiba saya jadi kangen dengan almarhum bapak saya. Zaky tidak pernah bertemu dengan eyang kakungnya, karena eyangnya meninggal dunia setahun sebelum dia lahir. Kadangkala saat-saat seperti ini membuat saya terkenang bapak karena kecintaan beliau akan buku dan sejarah. Barangkali akan banyak pembicaraan menarik antara Zaky dan eyangnya jika saja beliau masih ada. Kami pulang sudah mulai gelap, dengan badan lelah karena lama berjalan di udara dingin dan sampai di apartment rasanya hanya ingin sesuatu yang hangat dan mengumpulkan energi untuk kembali ke museum yang lain esok hari.
Besoknya, saya agak malas keluar karena kemarin sudah melihat sendiri, sehingga tidak terlalu suka membayangkan antrian panjang di museum yang bakalan dirasakan dalam udara dingin. Malam sebelumnya saya telah mendapatkan foto-foto cantik Musée du Louvre yang menakjubkan itu, tapi memang rasanya tidak cukup.
Saya melihat foto-foto Musée du Louvre jauh sebelum pergi ke Paris. Setiap bagian arsitekturnya, buat saya amat menarik dan rasanya jika kita bisa membuat foto-foto bangunan museum di malam hari, sempatkan juga untuk mengambil gambar siang hari. Foto yang dihasilkan memiliki suasana yang amat berbeda sensasinya. Walaupun saya sering melihat foto-fotonyanya di Flicks, Pinterest, buku-buku fotografi bahkan di instagram. Rasanya masih juga terpesona dengan design dan arsitekturnya yang begitu cantik dan indah. Selain Museum ini, saya juga masih penasaran dengan arsitektur Museum Nasional London.
Yang pasti, untuk antri, menjelajah ke dalam museum dan diskusi dengan anak-anak bisa menghabiskan waktu 3-5 jam hanya di satu tempat. Jadi itu sebabnya kami tidak bisa tinggal di kota Paris untuk 2-3 hari saja. Karena kenikmatan anak-anak menjelajahi kota, museum dan mencoba banyak hal, setidaknya perlu waktu 4 hari penuh. Sisanya ya 1 hari untuk kedatangan dan 1 hari untuk keberangkatan. Kenikmatan setiap orang memang berbeda, dan bagi kami melihat kehidupan dari dekat, tinggal di apartment, menjelajahi museum, mencari tahu banyak hal, sering berjalan kaki dan naik transportasi umum adalah hal yang menyenangkan. Kami menikmati Paris secara total selama 6 hari dan walaupun kunjungan ke Museum mengkonsumsi banyak waktu, tapi memang ternyata itulah yang dinikmati anak-anak. Jadi tak ada yang sia-sia.
Sayangnya kunjungan ke Institut du Monde Arabe à Paris terlewatkan oleh kami. Karena saya baru mengetahui adanya museum tersebut secara tak sengaja saat bis kami melewatinya dan tak ada waktu lagi untuk mampir ke sana. Padahal hampir semua museum ada di dalam daftar saya, tapi herannya tak banyak yang menginformasikan tentang museum ini. Agak kecewa karena barangkali saja banyak sejarah yang menarik disana, terutama tentang kebudayaan islam, tentunya. Sebagai seorang yang terlahir muslim, namun baru belajar tentang Islam secara serius setelah SMA, dan mencari ilmu terus menerus setelahnya, saya jadi tahu betapa banyak orang yang alergi dengan Arabisasi.
Padahal, semakin saya belajar tentang Islam, semakin tahu bahwa budaya Arab amatlah berbeda dengan islam. Sebut saja satu hal, yaitu tari perut. Jelas bahwa itu adalah budaya Arab, namun sudah pasti bukan ajaran Islam. Tdak bisa dipungkiri bahwa Islam berasal dari wilayah tersebut dan Quran memakai bahasa Arab, sehingga begitu banyak orang yang memang tidak mempelajari tentang Islam secara meneyeluruh, tidak bisa membedakannya. Mereka hanya berpikir bahwa Arab dan Islam adalah hal yang sama karena sama-sama memakai bahasa Arab.
Tempat wisata lain yang menarik di kota ini, adalah berjalan-jalan di Montmartre. Montmartre dulunya adalah desa kecil dan kini menjadi tempat wisata dimana didalamnya terdapat pasar souvenir dan barang antik, gereja bersejarah Basilica of Sacre-Coeur yang biasa disebut gereja putih yang telah ada sejak jaman dulu dan disini pula tempat berkumpulnya penulis puisi dan para artis Perancis sehingga banyak dijual kartu pos yang bergambar lukisan-lukisan cantik dan puisi.
Montmartre yang letaknya tinggi di atas bukit, bisa menjadi tempat yang bagus untuk berfoto dan melihat pemandangan kota Paris. Jalanannya kecil-kecil seperti gang jalan kalau di Indonesia. Itu sebabnya mobil hanya bisa parkir di tempat-tempat tertentu saja. Jika suka Nutella, Paris adalah surga, karena di tempat inipun jajanan dengan isi, topping sampai cocolan Nutella banyak macamnya. Karena dijual di banyak tempat seperti cafe dan juga restoran-restoran mungil tapi keren.
Disini pula kami bertemu dengan seorang penjaja gambar gunting yang bisa melakukan guntingan yang menyerupai bayangan foto kita hanya dalam hitungan detik. Lucunya dia menjajakan dagangannya pada kami dalam bahasa Indonesia. Kaget? Ya iyalah ! Jadi kami mengobrol sejenak, karena rupanya dia pernah tinggal beberapa bulan di Indonesia. Selain itu, turis Indonesia ternyata memang banyak datang ke tempat ini.
Saya tahu, walaupun masih belum cukup puas berjalan-jalan di Paris yang cantik ini dan banyak yang belum bisa didatangi dan belum sempat pula mencoba Le Hammam, tetapi kunjungan kami harus berakhir dan bersiap-siap untuk beranjak menuju Bremen, Jerman. Mudah-mudahan anak-anak dapat selalu mengenang perjalanan ini sebagai saat-saat kebersamaan penuh cinta. Yuuuuuk..., ke BREMEN



Comments
Post a Comment