BREMEN, JERMAN
SAKSI KEJAYAAN TEMBAKAU JEMBER DI EROPA
Bremen adalah kota kecil yang tenang dan amat menyenangkan di Jerman. Tempat yang cantik, dimana orang tua saya menghabiskan sebagian waktu bersama adik-adik saya selama kurang lebih 8 tahun karena bapak saya dipindah tugaskan ke sini sejak 1988 hinga beliau pensiun dan kembali ke Surabaya sekitar tahun 1996. Perjalanan kami kali ini adalah perjalanan kenangan, atau napak tilas untuk mengenalkan pada anak-anak pada kehidupan eyang Soegeng Pangestoe. Seorang kakek yang tidak pernah dikenal oleh Zaky karena sudah pergi meninggalkan kami semua 2 minggu sebelum kami pindah ke New Zealand, artinya sebelum Zaky lahir, karena dia lahir setahun setelah kami menetap di Auckland. Sedangkan untuk Teteh, eyang kakungnya hanya sempat dikenal sampai dia berusia 10 tahun.Tak cukup rasanya terima kasih kami pada keluarga mereka, karena telah menjamu dan mengurus keperluan kami saat napak tilas sejarah keluarga kami. Dunia kami antara Auckland dan Bremen memang berjauhan. Perlu 24 jam di atas pesawatnya saja untuk sampai kesini dari "down under", New Zealand. Belum termasuk jam transit nya. Dimulai dari 10 jam Auckland-Singapore, transit, kemudian dilanjutkan 14 Jam lagi perjalanan ke Paris. Itu sebabnya jet-lag harus dihilangkan dengan menetap seminggu di Paris terlebih dahulu. Kami tinggal di apartemen tak jauh dari Eiffel untuk melihat kehidupan sekitar dan menjelajahi kecantikan kota romantis tersebut, sebelum melanjutkan perjalanan ke Bremen, Berlin dan Amsterdam.
Salah satu penghilang jet-lag menurut Teteh yaitu dengan makan mie instan dari perbekalan yang kami bawa. Teteup..., orang Indonesia biarpun sudah lama tinggal di Auckland, setidaknya mie instan dan saus sambal selalu jadi bekal yang harus dibawa dalam perjalanan. Tapi apalah artinya jarak, karena saat ini kami disatukan dengan kenangan kota kecil di Indonesia, Jember, Jawa Timur. Juga kenangan tentang bapak. Sungguh.., banyak hal yang menarik untuk dibahas dengan anak-anak selama dan setelah perjalanan kami mengunjungi Bremen, terutama untuk Zaky yang banyak ingin tahu tentang kehidupan di Jerman dan tertarik dengan bahasa Jerman. Kalau Teteh...., dia lebih mengamati bentuk muka para pria Jerman yang katanya bermuka unik dan keren. Hahahahahah....., beda cerita ini yaaa.
Teteh hanya mengenal almarhum eyang kakungnya sampai umur 10 tahun, sedangkan Zaky bahkan belum pernah sekali pun mengenal beliau karena dia lahir setahun setelah eyangnya meninggal dunia. Pertanyaan-pertanyaan Zaky membuat kami sering bercerita tentang apa saja yang dilakukan eyangnya dan apa pekerjaannya selama hidupnya. Hal ini membuat kami memutuskan untuk melakukan perjalanan "napak tilas" bersama anak-anak ke Bremen, karena kami ingin sedikit bernostalgia dan membawa anak-anak ke dalam suasana lain. Melihat sebagian dari kehidupan eyangnya di masa lalu sambil memupuk kembali kebersamaan keluarga kecil kami.
Diantar oleh Rina,kami menyusuri kota Bremen. Perjalanan menjelajahi kota yang masih berdandan dengan lampu-lampu natal dan sedang menanti pergantian tahun terasa menyenangkan. Mungkin karena saya menyukai kota kecil, jadi rasanya amat nikmat melihat kota ini tidak banyak berubah. Kalaupun ada, perubahannya tidak terlalu banyak dan mencolok. Kami berkunjung kembali ke Bremen HAUPTBAHNHOF (stasiun kereta api) yang terlihat sedikit berbeda dan lebih rapi dari saat orang tua kami tinggal disana. Bentuk bangunan yang kuno dan khas membawa ingatan masa lalu saya, dimana masa itu amatlah terasa betapa besar tantangan adik-adik dan ibu saya menyesuaikan diri dengan kehidupan yang jauh berbeda dengan kehidupan kami di Surabaya dan Jember. Penyesuaian kebiasaan, bahasa, cuaca dan juga gaya hidup. Banyak yang menjadi hal baru dan perlu banyak belajar bagi mereka saat itu. Tidak mudah dan penuh perjuangan, walaupun menurut banyak orang kehidupan keluarga kami saat itu lebih banyak menikmati kemudahan dan fasilitas dan Alhamdulillah termasuk beruntung dibandingkan ribuan orang lain yang baru pertama kali menginjakkan kaki di luar negeri.
Diantar oleh Rina,kami menyusuri kota Bremen. Perjalanan menjelajahi kota yang masih berdandan dengan lampu-lampu natal dan sedang menanti pergantian tahun terasa menyenangkan. Mungkin karena saya menyukai kota kecil, jadi rasanya amat nikmat melihat kota ini tidak banyak berubah. Kalaupun ada, perubahannya tidak terlalu banyak dan mencolok. Kami berkunjung kembali ke Bremen HAUPTBAHNHOF (stasiun kereta api) yang terlihat sedikit berbeda dan lebih rapi dari saat orang tua kami tinggal disana. Bentuk bangunan yang kuno dan khas membawa ingatan masa lalu saya, dimana masa itu amatlah terasa betapa besar tantangan adik-adik dan ibu saya menyesuaikan diri dengan kehidupan yang jauh berbeda dengan kehidupan kami di Surabaya dan Jember. Penyesuaian kebiasaan, bahasa, cuaca dan juga gaya hidup. Banyak yang menjadi hal baru dan perlu banyak belajar bagi mereka saat itu. Tidak mudah dan penuh perjuangan, walaupun menurut banyak orang kehidupan keluarga kami saat itu lebih banyak menikmati kemudahan dan fasilitas dan Alhamdulillah termasuk beruntung dibandingkan ribuan orang lain yang baru pertama kali menginjakkan kaki di luar negeri.
Saya bertahan untuk tidak ikut pindah karena telah memasuki tahun ke 2 masa kuliah dan saya pikir nanti bisa melanjutkan untuk S2. Tapi rupanya takdir berkata lain. Karena setelah mendapatkan ijazah, tampaknya rejeki saya adalah mendapatkan ijab sah alias perkawinan. Sehingga niat untuk kembali memasuki kelas untuk kuliah lagi berpindah ke kelas lain, yaitu belajar menjadi istri, berkarir, mengelola uang pendapatan suami, mengurus rumah, beradaptasi dengan ipar-ipar dan mertua sampai menjadi ibu. Semuanya takdir yang tak kalah menantang dan sekaligus menyenangkan. Kami melanjutkan acara napak tilas ke tempat kerja eyang Soegeng, tempat pelelangan tembakau dan kantor beliau. Pada jaman itu, hasil eksport tembakau Indonesia untuk pasar Eropa di lelang terlebih dahulu di BREMER TABAKBÖRSE, Bremen. Gedung ini dulu milik pemerintah Indonesia. Sayangnya kantor lelang tembakau ini sekarang telah berpindah tangan dari pemerintah Indonesia ke pihak Jerman. Cerita mengalir dari Rina dan mas Chandra yang tak urung menimbulkan sedikit rasa pilu di hati saya setelah tahu bagaimana kisah pemerintah Indonesia harus kehilangan tempat lelang tersebut. Tapi apalah dunia ini, semua tak ada yang abadi. Apapun itu....., ada waktunya untuk berpisah, hilang, pergi ataupun berganti tanpa kecuali.
"Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat memajukannya".
(QS 7:34)
Lalu kami melanjutkan kenangan dengan mengajak anak-anak ke rumah yang mungil dan nyaman yang dulu ditinggali oleh eyang mereka di HOFFMANNS PARK, dan seperti juga yang lain di area itu..., perumahan ini juga tak banyak berubah secara fisik dan masih seperti dulu. Play ground di dalam perumahan itu juga masih ada, membersitkan setitik ingatan bahwa dulu bahan material ayunan itu salah satunya adalah ban bekas, sekarang telah dirubah dengan bahan karet yang lebih nyaman untuk diduduki. Hanya pohon-pohonnya yang terlihat semakin makin besar dan rimbun.
Dulu waktu masih tinggal disini, dari jendela dapur yang menghadap ke hutan kecil suka kelihatan lewat tupai-tupai dari balik pepohonan dan melompat-lompat di belakang rumah dan sesekali burung juga ramai bersuara di sana.
Dulu waktu masih tinggal disini, dari jendela dapur yang menghadap ke hutan kecil suka kelihatan lewat tupai-tupai dari balik pepohonan dan melompat-lompat di belakang rumah dan sesekali burung juga ramai bersuara di sana.
City centre di Bremen seperti halnya kota-kota lain di Eropa, penuh dengan arsitektur bangunan tua dan kuno yang berumur ratusan tahun yang masih terawat. Di tengah kota ada tram dan bus sebagai sarana transportasi umum sampai ke ujung-ujung suburb. Yang saya sukai tentang orang-orang Jerman adalah, mereka menyukai hal-hal yang nyaris sempurna, bersih dan amat efisien. Kelihatan sangat berbeda dengan Belanda dan Perancis yang lebih santai dan apa adanya. Efisiensi amat terlihat dari desain lay out rumah sampai pengaturan lalu lintas. Rasanya jarang sekali ada keterlambatan jadwal bus atau kereta di Jerman. Untuk Asia, ini hanya bisa disejajarkan dan ditandingi oleh Jepang dan Singapore yang dalam banyak hal hampir selalu ingin mencapai kesempurnaan.
Tempat-tempat wisata yang harus dikunjungi di Bremen diantaranya adalah :
- DIE BREMER STADZMUSIKANTEN, jika anda penggemar cerita Grimm bersaudara, maka pasti pernah membaca cerita tentang kisah 4 binatang yang di sia-siakan oleh pemiliknya dan lari ke Bremen. Kisahnya bisa dibaca disini
- HACHEZ CHOCOLATE - coklat khas kota Bremen yang pemiliknya adalah orang Belgia bernama Joseph Emile Hachez yang mendirikan the Bremer Hachez Choclade GmbH & Co di Bremen, Jerman.
- DAS RATHAUS BREMEN SENATSKANZLEI, atau dikenal sebagai Bremen City Hall. Gedung bata berarsitektur Gothic yang dipergunakan oleh senat dan walikota Bremen.
Setelah pensiun, bapak pulang kembali ke Surabaya dan diminta oleh perusahaan cerutu Wismilak sebagai Master Blender yang saat itu baru mulai memperkenalkan Wismilak Premium CIgar. Produk berkelas yang di gulung dengan tangan tersebut memulai debutnya di tahun 1999. Bapak menjadi seorang pensiunan yang unik. Jika eyang-eyang lain mudah bertemu dengan cucunya saat pensiun, tidak begitu adanya untuk Teteh. Pekerjaan ini sering membuat beliau tetap bepergian ke luar negeri dan kami seringkali harus merancang jadwal liburan di satu tempat untuk mempertemukan Teteh dengan eyangnya yang masih super sibuk di saat pensiun. Alhamdulillah, tak mengapa, karena itupun menjadi kenangan indah untuknya.
Perjalanan Bremen saat ini, walaupun hanya 3 hari, tapi amat berkesan dan penuh memori. Senang rasanya bisa merancang dan menyelipkannya diantara perjalanan 3 minggu kami ke Eropa. Semoga kelak bisa kembali kesini untuk waktu yang lebih lama karena ada kenikmatan yang belum tuntas untuk menikmatinya dan rasanya tak cukup hanya 3 hari.
Perjalanan Bremen saat ini, walaupun hanya 3 hari, tapi amat berkesan dan penuh memori. Senang rasanya bisa merancang dan menyelipkannya diantara perjalanan 3 minggu kami ke Eropa. Semoga kelak bisa kembali kesini untuk waktu yang lebih lama karena ada kenikmatan yang belum tuntas untuk menikmatinya dan rasanya tak cukup hanya 3 hari.
Selanjutnya, kami bersiap-siap untuk berangkat ke Berlin untuk reuni keluarga. Aaaahhh...., tak sabar rasanya.
Klik disini untuk melihat perjalanan kami di Berlin dan saran-saran bagi yang ingin berlibur ke Berlin. Follow untuk mendapat notifikasi jika ada tulisan terbaru.







It is beautiful, as beautiful as the reminiscent of our loved ones left in the glowing lights of the city and the touch of cold left on our skin from the air.
ReplyDeleteNice words..., thanks
DeleteThanks sharingnya..cerita Yang penuh memori
ReplyDeleteSemoga ceritanya bisa menyatukan hati kita ya Na...., Terima kasih sudah berkunjung
Deletebagus banget tulisannya... semoga perjalanan napak tilasnya jadi inspirasi buat banyak orang....salam hormat untuk keluarga semua
ReplyDelete