Skip to main content

BERLIN CITY - SAKSI KEBESARAN HATI DAN MELEBURNYA EGO


Brundenberg Gate
SAKSI SEJARAH PERSATUAN TIMUR DAN BARAT

Setelah beberapa hari bernostalgia dan berbagi cerita tentang napak tilas di Bremen, kami meneruskan perjalanan ke Berlin dan berencana untuk melakukan pertemuan keluarga dengan keluarga mas Yongki, kakak ipar yang sedang mengunjungi putrinya di Kiel. Mas Yongki, adalah kakak suami saya dan putri pertamanya, Prasti, dulu kuliah di Jerman untuk menjadi dokter dan telah menetap di negeri ini.  Sekarang dia telah menjadi dokter dan kabarnya saat itu sedang berencana akan mengambil spesialis. Dia telah pula menikah, bersuamikan warga Jerman dan memiliki seorang anak laki-laki. 
Inilah catatan singkat dan tips menjadi turis bersama keluarga di Berlin.

Dari Bremen ke Berlin dapat ditempuh dengan beberapa cara, yaitu memakai mobil, kereta atau pesawat terbang yang rata-rata tidak jauh berbeda waktu tempuhnya. Maklumlah, di Jerman jalan tol nya (disebut Autobahn) dibangun dengan tekhnology tinggi sehingga bisa dipakai untuk kecepatan mobil 130-150 km/jam. Bahkan kabarnya beberapa perusahaan mobil biasanya akan melakukan test drive di Jerman karena jalannya sangat aman kondisinya untuk dipakai sampai kecepatan 200 km/jam dan statistik kecelakaan yang terjadi di autobahn negara ini amat rendah. Di New Zealand kami hanya bisa melalui jalan tol (disebutnya Motorway) dengan maksimal kecepatan 80-100 km/jam. 

Di bawah ini waktu tempuh dengan beberapa alternatif kendaraan:
  • Memakai mobil dapat ditempuh selama 4 jam,
  • Menggunakan kereta, harus berhenti, turun untuk ganti kereta di Hamburg. Jadi rutenya adalah Bremen-Hamburg-Berlin. Harga tiketnya €70 - €110 per orang sekali jalan dan ditempuh dalam waktu 4 jam - 5 jam, tergantung keretanya akan berhenti dimana saja.
  • Pesawat terbang sekitar 4 jam 11 menit dan harganya €65 - €257 per orang.
Karena kami malas berpindah-pindah membawa koper, maka kami memutuskan untuk memilih pesawat terbang saja. Alhamdulillah lebih nyaman untuk kami yang membawa Adek yang sebentar lagi akan berumur 9 tahun dan masih duduk di sekolah dasar. 

Di Berlin, apartment kami terletak di tengah kota dan memiliki pemandangan ke arah stasiun pusat kereta dan Berlin TV Tower atau Berliner Fernsehturm. Besok kami akan mengalami pergantian tahun 31 Desember 2014 ke January 2015 di sini dan keliatannya tak perlu keluar rumah untuk menyaksikan kembang api. Tapi seperti biasa, kami tak merayakan tahun baru dan biasanya akan tidur sebelum jam 11 malam, entahlah kali ini. 

Esok harinya kami melakukan tour dengan berjalan kaki di sekitar kota. Layanan "Walking Tour" dengan group kecil bisa dipesan dengan membayar sekitar €29 - 80 per orang, tergantung berapa banyak tempat yang akan dikunjungi. Semakin banyak, tentunya semakin mahal dan lama. Tour yang kami pesan memakan waktu 4 jam, dengan peserta sekitar 20 an orang dalam group dan perjalanan dilakukan dapat dinikmati oleh kami semua. Inilah hasil perjalanan tour kami dengan berjalan kaki dengan seorang pemandu wisata.



Perjalanan kami dimulai dengan berkunjung ke Altes Museum of Berlin, yaitu Museum yang membawa kembali para pengunjungnya untuk bereksplorasi dengan ke"antik" an hasil karya seni Roman, Greeks dan Etruscans. Bentuk bangunannya merupakan arsitektur Neo Klasikal dengan pilar-pilar yang khas. Awalnya bangunan ini dipergunakan untuk koleksi seni keluarga kerajaan Prusia dan di masa sekarang dipakai pameran berkala untuk karya seni Roman dan Greek.


Berlin Cathedral
Selanjutnya adalah Berlin cathedral. Gereja protestan ini merupakan salah satu landmark kota Berlin dan masih dipergunakan para jamaahnya. Bangunan lamanya sempat diruntuhkan sebelum dibangun baru di tahun 1894. Karl Friedrich Schinkel membuat desain gereja bersejarah ini dalam Neo Klasikal di awal 1800 an, namun saat raja Wilhelm II bertahta, selera saat itu sudah amat berubah dan arsitek Julius Carl Raschdorff  melakukan renovasi dengan gaya Renaissance Italy dan Baroque yang memadukan ornamen mosaik, tampilan emas dan patung-patung. Setelah perang dunia ke 2, dalamnya ditambahkan museum yang berisi tentang sejarah gereja.


Tempat selanjutnya adalah tempat coklat sekaligus menghangatkan diri sejenak dari udara dingin dan bisa melihat pembuatan coklat disana. Walaupun saya penggemar coklat, saat itu tidak ada yang terlalu menarik perhatian kami karena ada hal lain yang lebih menarik. Kami melintasi beberapa kali penyebrangan lalu lintas dan saya mendapati bahwa Berlin memiliki tampilan lampu penyebrangan yang berbeda, tidak sekedar lampu merah hijau biasa. Di Berlin disebut sebagai "Ampelmännchen"

Tampilan ini asalnya dari Jerman Timur dan sejak pemerintah Jerman Barat dan Timur bersatu, pemerintah perlu membuat standard yang sama di segala hal, termasuk menyamakan model dan jenis traffic lights.   Pada tahun 1995, kampanye Solidaritas untuk mempertahankan "Ampelmännchen" sebagai salah satu budaya Jerman Timur disetujui dan dipergunakan sebagai simbol untuk pejalan kaki yang akan menyeberang di seluruh kota Berlin. Desain ini merupakan hal yang enak dilihat, unik dan menjadi souvenir yang diburu para turis. Saya berburu foto saja. Gratis dan lebih mudah untuk dibawa pulang.



Sebelum kami menjelajahi Trabi world, tembok Berlin, holocaust memorial, Charlie Point dan Brundenburg Gate, saya ingin mengingatkan bahwa berjalan kaki di musim dingin haruslah memakai baju dan sepatu yang benar-benar nyaman.
  • Baju yang hangat tidak harus tebal, tetapi pastikan memakai baju dalam berbahan  thermal sebelum berpakaian dengan bahan baju dari wool dan sejenisnya. Pakaian dalam yang khusus dibuat untuk musim dingin akan membuat satu lapisan pertahanan tubuh yang cukup efektif.
  • Pakai jacket hangat yang tahan hujan dan angin. 
  • Sepatu juga harus yang memiliki karet dibawahnya agar tidak licin saat di tempat bersalju. Saya memakai kaos kaki tipis dari bahan merino wool yang super hangat. Jika kaki kedinginan, bisa dipastikan akan lebih sering ke toilet nantinya.
  • Jika tidak memakai kaos sampai ke leher (turtle neck), pakailah syal untuk menghangatkan leher. Penting agar tidak batuk dan pilek.
Jika cara berpakaian benar, maka lapisan tak perlu banyak. Jika sering bepergian, belilah baju dalam khusus yang berbahan thermal seperti merino wool. Tipis dan ringan saat dibawa dalam koper. Kami lebih sering berganti baju dalam daripada baju lapisan ke dua atau ke tiga di luarnya.


Trabi World adalah tempat mobil-mobil Traban yang di produksi oleh VEB Sachsenring Automobilwerke Zwickau, Jerman Timur antara tahun 1957 hingga 1990. Saya kagum dengan niat baik mempertahankan sebagian sejarah setelah penggabungan Jerman. Memelihara kehidupan sejarah masa lalu dengan cara yang cantik adalah salah satu cara menciptakan kesetaraan di kedua belah pihak, sehingga tak ada yang merasa lebih rendah atau lebih tinggi dari lainnya dan menjadikan rasa yang saling menentramkan.

Tour bisa dinikmati dengan cara melihat di museum,atau  jika cukup percaya diri menyetir di sebelah kiri, bisa mencoba bersafari dengan mengendarai mobil ini untuk berkeliling kota Berlin. Banyak turis menyukai tour keliling kota memakai mobil Traban ini dan biasanya tiket dijual untuk berkendara selama 75 menit. Kami di New Zealand sopirnya ada di sebelah kanan, seperti Indonesia, Australia dan UK, maka kami lebih memilih menikmati museumnya saja daripada harus menyesuaikan lagi dengan lalu lintas kota Berlin. Tampaknya satupun dari kami berempat tak ada yang berminat untuk menjelajahi sendiri lalu lintas kota yang bersalju hari ini.



Berjalan kaki berkeliling kota ini lumayan menarik dan sebetulnya kami tak menyangka bahwa  atraksi turis yang didapat juga lumayan banyak. Kali ini kami  mendatangi Tembok Berlin dan Checkpoint Charlie yang popular itu. Tak lama setelah tembok Berlin dibangun pada tahun 1961, Presiden John F. Kennedy meminta pada tentara Amerika untuk membangun check point di 3 lokasi berbeda di tembok tersebut untuk bisa dipakai para petugas diplomatik Amerika dan "gank" militer nya agar dapat melewati wilayah perbatasan Berlin Barat dan Berlin Timur dengan leluasa. 

 Mengapa nama Charlie yang dipilih? Karena ada 3 posisi di sepanjang tembok Berlin, maka disebut sebagai A, B dan C. Biasanya urutan huruf disebut sebagai berikut, A (alpha), B (bravo), C (charlie), dan seterusnya. Checkpoint di tempat C tersebut adalah lokasi yang sering digunakan untuk menyelesaikan banyak urusan antara Uni Soviet dan Amerika, bahkan "tank" kedua belah pihak pernah berhadapan disitu. Presiden John F. Keneddy dan pemimpin Uni Soviet Nikita S. Khrushchev berkunjung kesini untuk saling bertemu saat ketegangan berlangsung pada masa perang dingin tersebut untuk menyelesaikannya. Itu sebabnya Checkpoint Charlie menjadi sangat popular dibandingkan dua tempat yang lainnya.

Checkpoint Charlie tidak sulit untuk dihilangkan setelah bergabungnya Jerman Barat dan Timur, karena memang tidak pernah dibangun secara permanen. Sedangkan tembok Berlin dirobohkan dan sebagian saja disisakan hanya untuk menjadi saksi sejarah dan salah satu atraksi turis, seperti halnya "Ampelmännchen" dan Trabi World. 

Setelah jatuhnya rezim Nazi, terjadi politik perang dingin antara negara-negara sekutu dan Uni Soviet yang dipisahkan dengan istilah Barat dan Timur. Di tahun 1989, komunis Hungaria membuka perbatasannya dengan Austria yang membuka peluang bagi Jerman Timur untuk melarikan diri pada Barat. Turunnya pemimpin Soviet Mikhail Gorbachev menyebabkan Jerman Timur minta pada Barat untuk mengintervensi secara militer dan penduduk Berlin Barat merobohkan tembok pemisah. 

Bagi "German Democratic Republic" (GDR) atau Jerman Barat, runtuhnya tembok Berlin adalah tanda permulaan dari akhir suatu kekuasaan lain. Negosiasi mulai dilakukan oleh Helmut Kohl, pemimpin Jerman Barat dengan Soviet untuk mempersatukan kembali Jerman Timur sebagai satu bangsa. Kabarnya Kanselir Helmut Kohl harus membayar senilai $60 billion pada Kremlin di tahun 1990 agar tentara Soviet bisa angkat kaki dari wilayah tersebut.(Andrew Glass, 2012). Jika keluarga adalah segalanya, maka berapapun uang yang dikeluarkan tampaknya akan dibayar oleh Jerman Barat untuk mempersatukan kembali saudara mereka yang terpisah selama perang dingin.

Perjalanan berlanjut ke Holocaust Memorial dan Brundenberg Gate. Kedua tempat ini letaknya tak berjauhan. Holocaust Memorial diadakan untuk memperingati pembunuhan besar bangsa Yahudi di Eropa. Disebutkan dalam website VISIT BERLIN, bahwa setelah melalui perdebatan panjang di Parlemen Jerman, akhirnya tempat ini dibangun pada tahun 1999. Desain dibuat dan dimenangkan oleh seorang arsitek dari New York, Peter Eisenman.

Saya berharap kelak Israel juga bisa berdamai dengan Palestina dan mereka bisa melihat kesalahan diri mereka atas pembunuhan masal yang bahkan berkali-kali dilakukannya terhadap bangsa Palestina. Barangkali saja nantinya juga akan ada memorial seperti ini di negara Palestina di masa yang akan datang. Aaaah...., siapa tahu? Allah membolak-balikkan hati, sehingga Jerman Barat dan Timur yang terpisah oleh politik pun bisa bersatu kembali, jadi mungkin saja Israel dan Palestina suatu hari punya sejarah yang lebih baik. Bi'idznillah.

Brandenburg Gate di saat menjelang tahun baru seperti ini pasti bisa dibayangkan penuhnya manusia yang berjejal. Pengambilan foto untuk landmark se level Brandenburg Gate seharusnya bisa banyak dan lebih cantik untuk kumpulan foto-foto di buku saya. Tapi ....ah sudahlah, mungkin memang belum rejeki saya untuk mendapatkan obyek cantik ini di kamera saya.

Brandenburg Gate adalah landmark yang unik dalam sejarahnya. Dahulu tempat ini adalah sebuah pintu pemisah kota dan seringkali mengakibatkan kematian karena kenekatan para pengunjung yang memanjat untuk berupaya melihat dunia di luar tembok. Saat berkunjung disini, 12 Juni 1987, presiden Amerika Ronald Reagan pernah berkata,"Mr. Gorbachov – tear down this wall!" 

Saat Jerman bersatu, lalu tembok Berlin diruntuhkan pada bulan November 1989, Brandenberg Gate menemukan jalannya sendiri sebagai simbol persatuan. Secara resmi tempat ini dibuka di bulan Desember 1989 dan sekitar 100 ribu orang datang di tempat ini untuk merayakannya, yang sayangnya juga sempat menimbulkan kerusakan. Akhirnya setelah mengalami restorasi, monumen ini kembali dibuka untuk turis sejak Oktober 2002 dan tak pernah lagi ditutup. Acara tahun baru setiap tahunnya dipusatkan disini untuk dinikmati suasananya oleh masyarakat Berlin. Saat kami kesini, persiapan kembang api dan lain-lain sedang dilakukan.

Sekedar tips jika ingin bertualang sendiri di Berlin dengan naik transportasi umum dengan gratis, maka pastikan untuk membeli Berlin Welcome Card disini, seharga  €20. Dengan memakai kartu ini, bisa dipakai naik transport umum kemana saja dan kapan saja tanpa harus membayar lagi, alias gratis berkali-kali. Bahkan jika ingin membeli tiket Museum atau tempat atraksi turis lainnya, bisa dapat diskon 50% dengan memakai kartu ini. 

Aduuuh..., jadi ingat di Indonesia, yang kalau mau jadi turis di Bromo atau Monas justru musti bayar lebih mahal kalau anak kita ketahuan bahasa Indonesianya rada cadel. Ini karena harga domestik sama orang asing dibedakan. Padahal jika kita ingin mendapatkan banyak turis, seharusnya banyak kemudahan yang ditawarkan ya. Termasuk juga harga yang tak dibedakan antara turis lokal dan asing. Kecuali kalau turis lokalnya gratis ya..., boleh beda mungkin.

Brandenburg Gate ini adalah perjalanan terakhir tour kita selama 5 jam berjalan kaki. Pemandu wisata yang menarik, cara mengatur bergantian di luar dan di dalam ruangan, jeda waktu minum kopi, beli roti, masuk museum dan lain-lain membuat kami tidak merasakan kelelahan yang terlalu berlebihan. Alhamdulillah. 
Kami kembali ke apartment dan beristirahat. Seperti biasa kami tidur cepat dan anak-anak sudah ke tempat tidur jam 10 malam. Namun kami terbangun dengan suara kembang api di sekitar area apartment dan menyaksikan dari jendela bahwa tahun baru seperti juga hari biasa buat kami. 



Hari berikutnya, makan siang di Berliner Fernsehturm, reuni keluarga dan berkunjung ke masjid Berlin untuk sholat Jumat.


Referensi:


  • Glass, A. 2012. West Germany, East Germany reunite, Oct. 3, 1990. Politico.com.  Diunduh dari https://www.politico.com/story/2012/10/this-day-in-politics-081922
Follow untuk mendapatkan update tulisan terbaru.

Comments

Popular posts from this blog

BREMEN - MENAPAKI KENANGAN MASA LALU

                                                                  BREMEN, JERMAN SAKSI KEJAYAAN TEMBAKAU JEMBER DI EROPA Setelah kisah perjalanan kami dalam tulisan  Paris 1 dan Paris 2 , maka yang berikutnya kami menuju Bremen.  Maaf ya, kalau terlalu jauh penulisannya sebelumnya. Begitu banyak yang harus di prioritaskan, namun saya tetap kembali kesini akhirnya. Terima kasih buat yang sudah menunggu-nunggu tulisan berikutnya. Saya selesaikan tulisan perjalanan kali ini sekaligus,  untuk Bremen dan Berlin. Bremen adalah kota kecil yang tenang dan amat menyenangkan di Jerman. Tempat yang cantik, dimana orang tua saya menghabiskan sebagian waktu bersama adik-adik saya selama kurang lebih 8 tahun karena bapak saya  dipindah tugaskan ke sini sejak 1988 hinga beliau pensiun dan kembali ...

BAHASA IBU, BAHASA KELUARGA

Banyak yang mengatakan bahwa setiap anak berbicara dengan bahasa yang dimiliki ibunya, sehingga seringkali kita terbiasa dengan istilah bahasa Ibu atau dalam bahasa Inggris di sebut dengan "mother tongue". Entahlah, mengapa tidak disebut bahasa ayah. Barangkali memang ibu-ibu yang lebih sering ditempatkan sebagai pendidik di rumah, sehingga di dalam islam sering disebut bahwa ibu adalah madrasah keluarga dan menurut hasil riset ini , anak mendapatkan IQ dari genetik ibunya. Wallahu allam. Tumbuh di negara seperti Indonesia yang memiliki banyak bahasa daerah yang tetap dihidupkan oleh para orang tua yang memiliki bahasa tersebut pada awalnya saya merasa biasa saja. Dulu tak pernah merasa istimewa berbahasa Jawa di rumah dan saat berinteraksi dengan teman, lalu tanpa kesulitan kami semua berganti secara otomatis dengan berbahasa Indonesia saat di sekolah, membaca buku dan menonton televisi.  Keistimewaan "switch coding" tanpa kesulitan ini terlihat dan m...

TETEH, IBU MERTUA SAYA dan SAYA

Si  Tetèh, nama p anggilan Sunda di keluarga Jawa Anak perempuan kami, yang biasa kami panggil  Tetèh  seringkali begitu banyak mengingatkan saya pada ibu mertua. Kalau dilihat dari panggilannya saja, kata  Tetèh  sama sekali tidak ada hubungannya dengan asal-muasal saya yang keturunan Jawa asli. Sehingga kadangkala agak membingungkan teman-teman saya. Lebih mengejutkan lagi, jika bertemu dengan orang-orang yang baru mengenal saya dan terlanjur berbicara dengan saya dalam bahasa Sunda. Setelah yakin dan mengira saya asli Sunda..., eh ternyata di akhir cerita mereka bingung bahwa saya bukan Sunda, tapi punya anak dengan panggilan  Tetèh. Beginilah ceritanya. Memang saya adalah orang Jawa dan menikah dengan suami yang  keturunan Jawa-Sunda. Mertua saya almarhum sebetulnya memang orang Jawa asli, namun lama tinggal di Bandung. Sehingga hampir semua ke "Jawa"an beliau sudah banyak yang luntur. Sementara almarhumah ibu mertua saya adalah wa...