ANAKMU BUKAN MILIKMU
Khalil Gibran
Khalil Gibran
Anakmu bukanlah milikmu,
mereka adalah putra putri sang Hidup,
yang rindu akan dirinya sendiri.
Mereka lahir lewat engkau,
tetapi bukan dari engkau,
mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.
Berikanlah mereka kasih sayangmu,
namun jangan sodorkan pemikiranmu,
sebab pada mereka ada alam pikirannya sendiri.
Patut kau berikan rumah bagi raganya,
namun tidak bagi jiwanya,
sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat kau kunjungi,
sekalipun dalam mimpimu.
Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,
namun jangan membuat mereka menyerupaimu,
sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
ataupun tenggelam ke masa lampau.
Engkaulah busur asal anakmu,
anak panah hidup, melesat pergi.
Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,
Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,
hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.
Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,
sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap.
Kisah ini terjadi di tahun 2018, sebelum COVID 19 melanda
Menjadi pendatang di Amerika, lalu masuk ke New York untuk tinggal selama sebulan setelah lama tinggal di New Zealand, rasanya seperti orang kampung yang datang ke Jakarta
Sempat bingung sebentar, namun bersyukur pada tehnology sebagai kreasi manusia yang sangat membantu semua urusan untuk mendapatkan petunjuk yang mendekati kenyataan. Mulai dari penginapan, lokasi, jarak dari tempat-tempat tujuan sampai cara memakai kendaraan umum. Alhamdulillah.
Di menit-menit terakhir sebelum berangkat, suami saya baru teringat ada teman SMP dan SMA yang lama menetap di kota ini. Akhirnya bertemulah kami dengan mba Kemala Handiman di airport setelah suami saya baru menelponnya saat kami telah berangkat. Supaya kami tidak asing sama sekali saat menginjak airport mba Mala berbaik hati menjemput kami disana.
Diantara berjuta kesibukannya, mba Mala dan suaminya sempat menemani kami bbrp hari dan Allah telah mengatur dengan baik segalanya untuk kami menyesuaikan diri, karena minggu ke 2 putri saya telah mulai training di Chelsea, Manhattan, sebelum mulai bekerja penuh. Jadwal training yang hanya 2 jam setiap hari menjadikan kami punya waktu bersama untuk menjelajahi kota berdua di area Manhattan dan sekitarnya guna lebih mengenal tempat untuk mencari-cari apa saja yang kami perlukan. Selain itu, teknologi memang punya peran yang luar biasa, karena dengan "Google search" sangat membantu sebagai pencari tempat sekaligus menggunakannya sebagai GPS. Jadilah pak Google dan ibu GPS memang jadi andalan kami.
Diantara berjuta kesibukannya, mba Mala dan suaminya sempat menemani kami bbrp hari dan Allah telah mengatur dengan baik segalanya untuk kami menyesuaikan diri, karena minggu ke 2 putri saya telah mulai training di Chelsea, Manhattan, sebelum mulai bekerja penuh. Jadwal training yang hanya 2 jam setiap hari menjadikan kami punya waktu bersama untuk menjelajahi kota berdua di area Manhattan dan sekitarnya guna lebih mengenal tempat untuk mencari-cari apa saja yang kami perlukan. Selain itu, teknologi memang punya peran yang luar biasa, karena dengan "Google search" sangat membantu sebagai pencari tempat sekaligus menggunakannya sebagai GPS. Jadilah pak Google dan ibu GPS memang jadi andalan kami.
Melihat kota New York, kami membayangkan kehidupan seperti Jakarta dan Singapore. Sibuk dan tak pernah tidur. Apalagi kami datang saat musim panas dan liburan panjang. Maka kota ini amatlah penuh dengan turis. Transportasi umum yang tersedia sangat membantu memudahkan menjelajah kemanapun tempat yang kami ingin datangi di New York. Termasuk mencari tempat belanja halal dan juga restaurant. Dari jenis makanan yang tersedia, New York memiliki keragaman makanan halal yang luar biasa banyaknya dibandingkan dengan Auckland. Tentu saja, penduduknyapun berjumlah hampir 8 kali lipat dibandingkan dengan tempat kami tinggal. Auckland hanya berjumlah 1,7 juta orang, sedangkan New York memiliki lebih dari 8 juta orang.
Sekedar untuk pemula yang akan datang ke New York, di bawah ini beberapa catatan dan tips untuk memudahkan perjalanan sebagai awal dalam mencari makanan halal dan masjid selama di New York.
1. LOKASI TEMPAT TINGGAL
Mencari tempat tinggal sementara tidaklah mudah di saat musim panas dan waktu liburan bulan Agustus-September. Beberapa kali terjadi setiap kali kami mendapatkannya di internet dan berdiskusi untuk mengambil tempat yang kami inginkan berujung pada kekecewaan karena telah diambil oleh orang lain. Lokasi yang kami cari pada awalnya adalah sekitar Manhattan, namun karena harganya yang mahal untuk pemakaian kami selama sebulan sebelum Teteh mendapatkan apartmennya sendiri, maka kami bergeser ke Queens. Jadi jika ingin pergi pada saat musim panas, mulailah mencari penginapan jauh-jauh sebelumnya.
Apartment yang kami sewa di Queens sangat nyaman. Di lokasi ini mudah mendapatkan bahan halal karena banyak tersedia grocery halal dan ada juga restaurant halal. Sehingga memudahkan kami belanja saat perjalanan dari subway ke rumah jika ingin memasak sendiri, maupun makan di luar. Jika seleranya adalah makanan Asia, maka ada juga rumah makan Indonesia yang tak jauh di sekitar sini dan daerah sekitar Flushing ada restauran Cina yang halal. Hanya perlu 1 stop saja dari Jackson Height atau Queens. Jika ingin bertempat tinggal di wilayah Manhattan, booth halal di pinggir jalan juga ada dimana-mana dengan menu sejenis sosis, hot dog sampai kebab dan briyani. Makanan jalanan yang popular dan peminatnya rela antri panjang untk makan. Sesungguhnya New York memang tempat yang menyenangkan untuk mencari makanan dan tempat sholat. Ini sesuatu yang tak pernah saya perkirakan sebelumnya.
2. RESTAURANT, BOOTH HALAL dan JENIS MAKANAN PENGGANTI DAGING.
Sebagai penggemar kuliner, saya selalu ingin mencoba berbagai macam makanan. Namun karena HALAL telah menjadi kebutuhan dan akhirnya bagian dari "lifestyle" saya, maka semua jenis makanan disini tetap dalam koridor tersebut, karena Islam adalah pilihan sebagai jalan hidup (Way of Life).
Dalam Quran surat An-Nahl 114, Allah berfirman
Fa kulụ mimmā razaqakumullāhu ḥalālan ṭayyibaw wasykurụ ni'matallāhi ing kuntum iyyāhu ta'budụn
Arti: Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.
New York ternyata surga makanan, karena disini bahkan jenis menu untuk vegetarian, vegan dan seafood sangat beragam dan cantik bentuknya. Sebagai seorang petualang makanan, seringkali saya menemukan rasa yang luar biasa. Kemahiran para chef vegetarian dan vegan di New York sungguh mengagumkan. Barangkali persaingan yang begitu ketat adalah penyebab utamanya. Disini pecinta kuliner tak segan untuk antri panjang untuk makan dan restaurant atau jenis makanan bisa menjadi trend seperti di Jakarta, Tokyo atau Seoul. Maka, inilah sebagian jenis makanan yang saya temukan selama tinggal sebulan di New York untuk memanjakan rasa lidah dan perut.
a. Chelsea Market
Alamat: 75 9th Ave, New York,
NY 10011
Terletak di salah satu area bergengsi di Manhatan, Chelsea Market sangat menarik untuk dikunjungi penggemar makanan. Di gedung ini ada shopping mall kecil, kantor dan food stalls. Tempat saya menunggu Teteh selesai waktu trainingnya jika kami ingin pergi berdua untuk mencari petualangan baru.

Jika tidak punya waktu untuk melihat yang layak sebagai makanan halal, food stalls nya menyediakan ikan dan seafood segar. Terletak di ruangan khusus dalam satu ruangan memanjang, selain ada berbagai jenis ikan yang siap dijadikan sashimi dan sushi segar, juga ada kepiting, oyster, lobster dan kerang. Semuanya masih dalam keadaan segar dan di situ disediakan pula meja-meja untuk makan sambil berdiri, bahkan sarung tangan plastik untuk makan lobster dan kepiting. Sup, sushi, lobster rebus atau kepiting disajikan dengan pilihan tambahan kentang rebus, jagung rebus atau sayuran. Cukup membuat kenyang. Ada para chef yang khusus menangani sashimi dan sushi siap memberikan pelayanannya.
Namun apalah kita ini yang begitu terbatas sebagai makhluk dalam segala hal, termasuk mengisi perut. Begitu cepat kita merasa kenyang hanya dengan 1-2 jenis makanan yang bahkan dengan nafsu yang besar pun tak akan dapat isi perut kita diluaskan lagi untuk memenuhinya dengan terlalu banyak makanan. Subhanallah.
Saya bersyukur punya waktu sebulan di New York, sehingga tak perlu tergesa-gesa dalam menikmati makanan disini. Minggu berikutnya saya mencoba ke stall kecil yang membuat penasaran saat melihat papan namanya, yaitu : VERY FRESH NOODLES. Dari judulnya saja, pasti mie yang disajikan dibuat saat itu juga, sehingga "fresh". Tak ada menu babi dan mereka menyediakan vegetarian menu. Untuk saya dan Teteh cukup besar porsinya, sehingga kami bisa makan seporsi berdua. Buat penggemar bebek, mungkin rada kecewa jadinya karena adanya "mock duck" alias bebek artifisial yang memang diperuntukkan bagi orang-orang yang memiliki lifestyle vegetarian.
Jadi menurut saya, New York city itu menarik untuk orang-orang yang suka mencoba berbagai makanan, terutama makanan sehat dan halal. Selain itu, ada juga "BEYOND SUSHI", vegetarian sushi. Teteh bilang tak ingin mencoba karena menurutnya terasa aneh jika harus makan sushi vegetarian. Maka saya mencobanya sendiri dan New York memang beda dalam soal makanan. Bahkan saya tak menyangka bahwa california rolls yang umumnya memakai salmon itu bisa dibuat dari quinoa bahkan dari beras merah. Waaahhhh...., sehat sekali. Rasanya enak lho! Serius.b. Yi Lan Halal Chinese Restaurant
Alamat : 42 - 79 Main St, Flushing NY, 11355
Chinese foods halal di negeri ini mungkin susah, tapi ada lho! Rasanya luar biasa saat menemukan restaurant ini karena kami memang penggemar dumpling, mie, kwetiau dan tahu. Duuuuh....
Tempatnya di China Town, pemiliknya muslim dan tempatnya dari Manhattan bisa ditempuh sekitar 20 menit dengan subway ke arah Queens atau Brooklyn dan berhenti di Flushing. Tempatnya tidak terlalu besar, lumayan bersih dan sepanjang jalan dari subway ke restaurant banyak pemandangan menarik di toko-toko sayur dan buah yang agak berbeda dari yang biasa kami lihat di Auckland. Contohnya durian segar. Ya ampuuun...terbelalak mata saya melihat gelondongan durian di sana karena di New Zealand kami hanya menemukannya beku dalam lemari pendingin. Sayangnya, saya tidak punya teman makan. Jadi ya sudahlah..., tak ada minat juga untuk beli karena Teteh tak suka durian dan tak akan mau makan bersama ibunya. Anak saya dua-duanya tak ada yang suka durian.
Menu yang kami pesan adalah dumpling rebus, mie kuah dan tahu pedas. Udara panas di New York saat musim panas suhunya bisa disekitar 29-35 derajad Celcius dan kelembabannya seperti di Indonesia. Jadi jalan kaki tak mungkin tak berkeringat dan makan pedas juga makin menambah derasnya cucuran keringat. Tapi bagaimana lagi..., aroma nasi, tahu dan mie kuahnya sungguh nikmat dan menggugah selera,sehingga semua tak lagi dipikirkan. Mashaa Allah.
c. UPI JAYA INDONESIAN RESTAURANT
76-04 Woodside Ave, Elmhurst, NY 11373
Pemiliknya orang Padang Sumatra, jadi Alhamdulillah kehalalan makanan tidak perlu diragukan. Banyak menu Padang seperti sate dan soto Padang, rendang, sambal cabe ijo dan kalio dapat dipastikan ada disini. Menu non-Padang juga tersedia, seperti sate ayam, nasi goreng, bahkan ada mpek-mpek Palembang ternyata dan semuanya enak. Untuk yang lama tinggal di New York, jarang masak tapi kangen masakan tanah air, tempat ini bisa menebus perasaan itu. Menu bisa dilihat dan klik disiniSebagian besar yang datang kesini adalah orang Indonesia, sehingga percakapan dalam bahasa Indonesia seringkali terdengar saat makan. Hanya saja agak berbeda dengan Auckland yang komunitas Indonesianya hanya sedikit, di New York City yang populasinya sekitar 8 juta orang, bisa dibayangkan bahwa diaspora Indonesia pastinya juga banyak. Sehingga belum tentu kita akan mengenal orang-orang Indonesia yang makan di tempat ini. Suasananya seperti saat kami pergi ke Jakarta dan Surabaya saja, orang tak terlalu perhatian untuk tahu satu sama lainnya hanya karena ada orang yang berbahasa Indonesia.
Saat ini, dunia sedang dilanda corona virus. Entahlah, apa yang terjadi dengan New York city dan bagaimana nasib semua restaurant ini sekarang di tahun 2020. Mungkin perlu dituliskan lagi kelak dengan kisah lain. Setelah tinggal setahun di kota ini, lalu di transfer ke Toronto, Canada, 6 bulan kemudian begitu banyak perubahan setelahnya. Saya bersyukur Teteh telah kembali pulang dengan selamat ke New Zealand menjelang bulan Ramadhan dengan cerita deg-degan perjalanannya.




Comments
Post a Comment