Skip to main content

COVID 19 - PENJARA PANDEMI dan BERKAH RAMADHAN

Bagian 2 - Ramadhan
Saya Kangen Almarhumah Ibu
Mother's day 2020


Tulisan di hari ibu ini hanyalah pengingat ringan bagi kita semua dalam mendidik anak-anak kita. Anak adalah salah satu perhiasan dunia yang tak bisa kita bawa mati raganya, kecuali ilmu dan amalan yang telah kita ajarkan pada mereka. 


“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” 

[HR. Muslim no. 1631]

Ibu saya adalah orang yang tidak pintar dalam agama, tapi beliau berusaha memintarkan kami dalam agama dengan rejeki bapak dengan memanggil guru agama untuk mengajarkan banyak hal. Walaupun yang mereka inginkan tidak semuanya bisa sesuai harapan dan jauh dari sempurna, tetapi usaha mereka tetap akan menjadi catatan amal. Bi'idznillah.

Saya hanyalah salah satu perhiasan dunia bagi kedua orang tua saya, namun saya senang  jika memang bisa menjadi perhiasan yang memiliki arti investasi penting bagi mereka di alam kubur dan akherat karena apa yang telah mereka berikan dalam hidup. Semoga saya bisa istiqamah mengirimkan amal jariyyah yang panjang bagi kedua orang tua saya dalam meringankan siksa kubur dan terus bisa memberi mereka bunga tabungan pada ibu dan bapak atas segala yang mereka telah investasikan kepada saya, baik itu waktu, harta maupun nasehat, saat mereka masih hidup. Aamiin.

Allah SWT berfirman Surat Al- Kahfi ayat 46 :

Artinya “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”

[Surat Al- Kahfi/18:46]



Ramadhan 2020 jatuhnya ada di tengah-tengah masa "lockdown" atau "emergency alert level 4" yang berlangsung di New Zealand secara nasional sejak 25 Maret 2020,  kemudian turun menjadi level 3 setelah 5 minggu. Diantara berkah pandemik dan terkabulnya doa kami yang menjadi cerita seru di tulisan sebelumnya, kami semua bersama orang-orang di seluruh dunia, yaitu berada di rumah, jaga jarak dengan tetangga atau orang lain yang tidak serumah dan tak boleh bersosialisasi  sementara waktu karena adanya pandemi Covid 19. 

Itu artinya Ramadhan kali ini tak ada tarawih berjamaah di masjid atau di komunitas muslim dan Indonesia,  dan tak ada buka puasa bersama teman, saudara dan sejenisnya. Seperti para muslimin dan muslimat di seluruh dunia, tarawih di rumah adalah sesuatu yang menjadi salah satu kegiatan yang lumrah selama Ramadhan. 

Tapi kegiatan tarawih di rumah kali ini justru membuat saya tiba-tiba kangen lagi dengan ibu. Bulan dan tahun ini adalah masa kangen saya pada ibu yang terjadinya hanya khusus di bulan Ramadhan dan ini yang ke 3 kalinya. Setiap kali saya merasa kangen 'khusus' pada ibu, pasti ada pada sesuatu peristiwa yang tidak biasa di tahun tersebut.

Cerita awalnya seperti ini. Sejak keluarga kami pindah dari Surabaya ke Jember, ibu saya yang semula tidak terlalu perhatian dengan agama, disini beliau selalu dikelilingi oleh orang-orang yang berilmu dalam agama. Mashaa Allah.  

Salah satu yang membuat saya mendedikasikasikan amalan saya pada ibu dan bapak adalah karena usaha mereka mengenalkan kami pada agama padahal mereka sangat minim pengetahuan agamanya. Kami lebih dulu bisa mengaji daripada mereka, karena guru-guru yang didatangkan ke rumah dan saya tumbuh besar dengan tarawih di rumah, bukan di luar rumah. Ini terjadi karena masjid yang terdekat seringkali penuh dengan para bapak  karena masjid tersebut terlalu kecil untuk bisa memuat bapak-bapak, ibu-ibu beserta anak-anak sekaligus. Kalau kami mau ke masjid yang lebih besar, jaraknya agak jauh dari rumah dan kami musti naik mobil lagi sekitar 10 menit perjalanan (saat itu).

Di rumah kami ada ruangan yang lumayan lapang untuk dipakai sholat, karena disana ada ruangan tempat ibu mengajar senam untuk anak-anak. Ruangan tersebut bisa dijadikan tempat untuk sholat berjamah kira-kira 30-35 orang, karena tidak banyak barang yang harus dipindah-pindahkan. Saya lupa sejak kapan, setiap Ramadhan ibu mengabarkan  pada para tetangga, bahwa ibu-ibu dan anak perempuan bisa sholat tarawih di rumah kami. Mungkin juga salah satu alasan beliau mengadakan tarawih merupakan kepraktisan  karena memiliki 3 anak perempuan dan 1 anak laki-laki. Rasanya untuk membawa pergi ke masjid setiap hari selama sebulan di masa kami masih kecil pastinya agak merepotkan. Jadi bisa jadi, ide tarawih di rumah dikarenakan hal tersebut. Entahlah.

Gayung bersambut, setiap malam selama 29 hari di bulan Ramadhan ibu-ibu tetangga datang untuk sholat bersama kami, dan bertindak sebagai imam adalah guru mengaji kami, ibu Ahyat, yang kadang bergantian dengan guru mengaji ibu, seingat saya namanya ibu Moendzali. Setiap tahun sholat tarawih saat Ramadhan selalu diadakan selama orang tua kami tinggal di Jember. Lalu saya pindah dan kuliah di Malang pada tahun 1986 dan 2 tahun berikutnya bapak dan ibu sekeluarga bersama adik-adik ke Bremen, Jerman, barulah kegiatan itu berhenti. Saya masih kuliah di Malang saat itu dan tidak ikut pindah ke Jerman.

Ibu-ibu ini selalu datang hanya beberapa menit  sebelum sholat isya, juga ibu Ahyat. Semua datang hampir berbarengan dan biasanya langsung bersiap-siap sholat isya dan tarawih. Ada kalanya yang datang adalah orang yang baru kami kenal mukanya.  Setelah selesai, beres-beres tikar, ngobrol dan minum sebentar itu hanya berlangsung sekitar 30 menit saja. Ibu hanya menyiapkan minuman hangat dan air, lalu kami hanya duduk melingkar dan menikmati makanan yang dibawa ibu-ibu. 

Ibu-ibu ada yang bawa kacang, biskuit, kue-kue atau jajan pasar. Sesekali ada juga beberapa jenis makanan yang kami baru tahu, jadi kami punya tambahan pengetahuan baru tentang makanan dan juga ada kenalan tetangga baru. Ada yang langsung pulang setelahnya. Kecuali ada yang ingin bertanya sesuatu pada ibu Ahyat tentang apa saja. Maka ibu Ahyat akan menjawab. Saya saat itu bisa memastikan karena selalu melihat jam untuk memastikan bahwa saya masih punya waktu cukup untuk membaca buku sebelum tidur setelah membantu ibu seperlunya jka ada yang akan disipakan untuk sahur besok. 

Tarawih bersama tetangga ini menjadi menarik karena kami jadi tahu siapa saja orang-orang di sekeliling kami tanpa harus berinteraksi berlebihan. Bagian lain yang terbawa dalam ingatan saya adalah, bacaan Quran saat sholat tarawih. Ibu Ahyat biasanya hanya membaca surat-surat Al Quran di jus 30 saja, terutama yang tidak terlalu panjang. Sehingga dalam waktu 29 hari, biasanya selalu ada surat baru yang saya hafal dari Al Quran karena setiap malam dibacakan. Saya tidak terlalu merasakan pada awalnya, tapi saat ujian dan test agama di SMP, saya baru merasakan bahwa saya punya hafalan lebih banyak dari teman-teman sekolah saat itu, sehingga punya banyak pilihan dan saya tak perlu lagi waktu khusus untuk menghafal. 

Masalah sedekah, lebih seru lagi. Ibu ternyata punya orang-orang tertentu yang selalu mengambil jatahnya di saat Ramadhan. Saya tak tahu bagaimana caranya, tapi rasanya ibu tahu siapa saja mereka dan mengenalnya dengan baik. Beberapa teman saya pernah mengatakan bahwa ibu dan bapak itu adalah orang yang ringan dalam membantu mereka dan tak pernah berpikir dua kali jika tahu teman saya ada yang kesusahan. Jadi rupanya teman-teman saya banyak yang dibantu juga dimasa lalu, tapi kami tak pernah merasa tahu sampai akhirnya mengetahui hal ini setelah berkeluarga dan punya anak. Mashaa Allah.

Kangen ibu saat Ramadhan yang pertama kali adalah di tahun pertama kuliah di Malang. Walaupun kota ini amat saya kenal karena bapak saya berasal dari disana dan eyang saya hampir seumur hidupnya ada di kota ini, sehingga saat Idul Fitri kami selalu datang ke rumah eyang. Tapi tinggal di sana sendiri saat Ramadhan di tahun pertama kuliah  dan jauh dari orang tua rasanya amat beda. Eyang tinggal sendirian bersama saudara yang merawat dan sudah mengalami dimensia saat itu, jadi tidak ada yang mengajak saya tarawih di rumah ataupun di tempat lain. Ada rasa sunyi di hati yang aneh rasanya.


Saat itu saya kangen ibu,
karena ibu bisa menggerakkan tetangga untuk datang tarawih berjamaah di rumah. 

Saat itu saya kangen ibu, 
karena pertama kali mulai merasakan bahwa Ramadhan tanpa tarawih itu tidak enak, tidak lengkap dan tidak sempurna rasanya. Ada yang hilang di hati.

Beruntung di tahun berikutnya saya punya teman SMA yang saat itu  kuliah di Universitas Brawijaya pindah sementara waktu dari tempat kos nya, ke tempat saya. Illyp namanya, dan dia mengaji setidaknya sehari sekali, dan mengajarkan ilmu baru, yaitu bagaimana bisa menikmati tarawih sendiri saja di rumah tanpa harus berjamaah dan memberitahukan dalilnya untuk sholat sendiri di rumah. Sejak itu, selama kuliah di Malang, saya belajar menikmati tarawih sendirian saja. Nikmat dan saya jadi tenang. Alhamdulillah saya pernah mengenalmu Illyp.

Kangen ibu saat Ramadhan yang kedua kali adalah saat baru menikah dan pindah ke Jakarta. Orang-orang di Jakarta lebih banyak melakukan buka puasa bersama (bukber) di saat Ramadhan, baik dengan keluarga ataupun teman-teman komunitas mereka, lalu dilanjutkan dengan kegiatan tausiah dan sholat tarawih. Tapi tidak semua orang setiap hari melakukan tarawih dan bukan di tempat yang rutin yang sama setiap harinya. Jika ada yang di masjid-masjid, tidak semua orang datang setiap hari di tempat itu. 

Selain itu, di Jakarta waktu di kantor bisa sampai malam dan tampaknya tak ada rutinitas khusus untuk segera pulang berbuka puasa. Di kota kecil seperti Jember, orang-orang hanya kerja di waktu siang dan setelahnya, beribadah lalu bersantai atau melakukan sesuatu yang lain sejak maghrib sampai malam. Bahkan saat SMA saya ikut beberapa kegiatan masjid untuk berbuka puasa. Namun karena pelajaran Quran, tausiah atau sejenisnya dilakukan sambil menunggu maghrib, mau tak mau, saya jadi tetap menyukai masa-masa menunggu waktu maghrib. Buka puasa di masjid bukanlah hal yang sering saya lakukan, tapi yang sedikit itu juga menjadi kenangan indah yang membekas di hati untuk saya. etelah dewasa, saya baru tahu dari majlis ilmu, betapa mudharatnya menyia-nyiakan waktu menjelang maghrib.

Jadi di Jakarta, saya dan suami tak sering bertemu di saat Ramadhan dan saya merasakan kesedihan atas kehilangan masa-masa tarawih berjamaah yang baru dimulai tetapi tak bisa berjalan rutin. Baru beberapa tahun belakangan setelah 5-6 tahun saya tinggal disana, banyak sekali pilihan kegiatan yang menarik di masjid-masjid sejak buka puasa sampai tarawih. Jadi begitulah, tahun pertama setelah menikah di Ramadhan dan suasana Jakarta membuat rasa kangen itu menyelinap lagi di hati. Tarawih berjamaah sesekali, sholat sendiri selebihnya.
Saat itu saya kangen ibu, 
saya kangen dengan rutinitas sederhana yang biasa saja. 
Saat itu saya kangen ibu,
yang bisa membuat kami menyiapkan diri menunggu waktu maghrib, buka puasa, lalu secepatnya sholat Isya setelahnya, kemudian langsung tarawih dan kembali pada kegiatan lain tanpa jeda yang panjang. 

Aneh ya? Sebuah rutinitas monoton saja, tapi membuat saya jadi kangen ibu. Rasanya waktu kami amat efektif dan tak banyak terbuang. 

Kangen ibu saat Ramadhan yang ketiga kalinya adalah tahun ini, dimana seluruh dunia termasuk di Auckland, New Zealand, merupakan Ramadhan  yang membawa campur aduk perasaan saya. Ada rasa bahagia dan haru yang tidak biasa. Sepertinya ini periode kangen yang lebih lengkap dari masa kangen di dua periode sebelumnya. Semuanya justru karena adanya penyakit yang berawal dari Wuhan, Cina pada bulan Desember 2019 dan menyebar ke seluruh dunia, yaitu penyakit yang disebabkan Novel Corona Virus atau Covid 19. 

Subhanallah setelah kehebohan di cerita sebelumnya (Bagian 1), akhirnya kami sekeluarga bisa berkumpul lagi karena putri kami, si Teteh pulang dari Kanada dan bisa berkumpul lagi dalam keadaan terpenjara di rumah bersama semua orang di seluruh dunia dan kami menjalani Ramadhan dengan keluarga yang lengkap lagi hampir setiap hari.

Ramadhan ini, saya senang karena bisa menata hati. Menikmati setiap saat yang dilewati. Bisa sholat maghrib atau shubuh berjamaah dengan keluarga lengkap lagi. Suasananya menjadi hal yang menyenangkan waktunya karena lebih santai tak ada dari kami yang dikejar waktu sekolah, kerja atau kuliah. Saya tetap menikmati. Jika tarawih tak sepenuhnya bisa melengkapi Ramadhan bersama komunitas, atau tetangga, saya juga sudah bisa belajar ikhlas dalam menyikapi. Tapi iya, saya kangen ibu.


Ramadhan ini saya kangen ibu,
Saya kangen dengan perilaku ibu yang tak banyak bicara,
Namun berusaha keras melakukan apapun yang beliau mau 

Ramadhan ini saya kangen ibu,
Saya kangen pada niyat ibu untuk bisa mengajar kekurangan dirinya sendiri dalam agama, dengan cara langsung melibatkan orang lain belajar bersamanya.



Ibu, setiap saya membaca Al-Quran, 
maka saya tahu bahwa dengan rejeki bapak, 
ibu dulu mengajari saya melalui guru.

Ibu, setiap saya berdiri sholat,
maka saya tahu bahwa ibu dulu telah ber infaq waktu, 
meminta guru mengajari kami, 
juga membawa saya ke masjid. 

Ibu, setiap saya menyiapkan sahur dan tarawih,
maka saya tahu bahwa ibu dulu telah bersedekah waktu, 
memberi kami makanan untuk puasa,
dan membawa para tetangga mendatangi rumah,
Untuk berjamaah bersama kami.

Ibu, saya tahu bahwa ibu tak pandai memasak,
Tak punya kumpulan resep yang keren dan menarik,
Tak punya hidangan sahur dan buka puasa yang memanjakan mata.

Tapi ibu telah menciptakan waktu,
Menjadi kenangan yang bermutu,
Semoga semua usaha ibu, 
akan membantu meringankan hisab dan dosa,
Karena pahala dan amal jariyyah mengalir dari kami.

SELAMAT HARI IBU








Comments

Popular posts from this blog

BREMEN - MENAPAKI KENANGAN MASA LALU

                                                                  BREMEN, JERMAN SAKSI KEJAYAAN TEMBAKAU JEMBER DI EROPA Setelah kisah perjalanan kami dalam tulisan  Paris 1 dan Paris 2 , maka yang berikutnya kami menuju Bremen.  Maaf ya, kalau terlalu jauh penulisannya sebelumnya. Begitu banyak yang harus di prioritaskan, namun saya tetap kembali kesini akhirnya. Terima kasih buat yang sudah menunggu-nunggu tulisan berikutnya. Saya selesaikan tulisan perjalanan kali ini sekaligus,  untuk Bremen dan Berlin. Bremen adalah kota kecil yang tenang dan amat menyenangkan di Jerman. Tempat yang cantik, dimana orang tua saya menghabiskan sebagian waktu bersama adik-adik saya selama kurang lebih 8 tahun karena bapak saya  dipindah tugaskan ke sini sejak 1988 hinga beliau pensiun dan kembali ...

BAHASA IBU, BAHASA KELUARGA

Banyak yang mengatakan bahwa setiap anak berbicara dengan bahasa yang dimiliki ibunya, sehingga seringkali kita terbiasa dengan istilah bahasa Ibu atau dalam bahasa Inggris di sebut dengan "mother tongue". Entahlah, mengapa tidak disebut bahasa ayah. Barangkali memang ibu-ibu yang lebih sering ditempatkan sebagai pendidik di rumah, sehingga di dalam islam sering disebut bahwa ibu adalah madrasah keluarga dan menurut hasil riset ini , anak mendapatkan IQ dari genetik ibunya. Wallahu allam. Tumbuh di negara seperti Indonesia yang memiliki banyak bahasa daerah yang tetap dihidupkan oleh para orang tua yang memiliki bahasa tersebut pada awalnya saya merasa biasa saja. Dulu tak pernah merasa istimewa berbahasa Jawa di rumah dan saat berinteraksi dengan teman, lalu tanpa kesulitan kami semua berganti secara otomatis dengan berbahasa Indonesia saat di sekolah, membaca buku dan menonton televisi.  Keistimewaan "switch coding" tanpa kesulitan ini terlihat dan m...

TETEH, IBU MERTUA SAYA dan SAYA

Si  Tetèh, nama p anggilan Sunda di keluarga Jawa Anak perempuan kami, yang biasa kami panggil  Tetèh  seringkali begitu banyak mengingatkan saya pada ibu mertua. Kalau dilihat dari panggilannya saja, kata  Tetèh  sama sekali tidak ada hubungannya dengan asal-muasal saya yang keturunan Jawa asli. Sehingga kadangkala agak membingungkan teman-teman saya. Lebih mengejutkan lagi, jika bertemu dengan orang-orang yang baru mengenal saya dan terlanjur berbicara dengan saya dalam bahasa Sunda. Setelah yakin dan mengira saya asli Sunda..., eh ternyata di akhir cerita mereka bingung bahwa saya bukan Sunda, tapi punya anak dengan panggilan  Tetèh. Beginilah ceritanya. Memang saya adalah orang Jawa dan menikah dengan suami yang  keturunan Jawa-Sunda. Mertua saya almarhum sebetulnya memang orang Jawa asli, namun lama tinggal di Bandung. Sehingga hampir semua ke "Jawa"an beliau sudah banyak yang luntur. Sementara almarhumah ibu mertua saya adalah wa...