Skip to main content

COVID 19 - PENJARA PANDEMI dan BERKAH DALAM DOA.

BAGIAN 1 - TERKABULNYA DOA


Allah Subhanahu Watta'ala berfirman dalam Al Qur'an.

"Berdoalah kalian niscaya Aku kabulkan.” 
[Qs. Ghafir/40: 60) 

Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya berdo’a (beribadah) kepada Rabb-ku dan aku tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya 
[Al-Jinn/72:20].

Wuhan, salah satu kota di Cina, tiba-tiba menjadi berita dan begitu populer di seluruh dunia di akhir  bulan Desember 2019. Penyakit Novel Corona virus (Corona Virus Disease - CoVid) yang kemudian dikenal sebagai Covid 19 menjadi epidemi di kota tersebut dan Pemerintah menutup kota untuk meng isolasi warganya selama beberapa minggu agar tak ada yang bepergian keluar dan menularkan penyakit ini ke kota-kota lain di Cina.

New Zealand, negeri yang kami tinggali segera merespon kejadian ini bahkan sebelum ada satupun warganya mendapatkan penyakit ini. Maka saat mengetahui bagaimana cepatnya penyakit ini menular dan menyebar di beberapa negara seperti Thailand, Jepang dan Korea, maka Departement Kesehatan New Zealand mengirim perwakilannya ke Cina untuk segera mengetahui dan mempelajari tentang apa dan bagaimana menangani penyakit ini pada tanggal 24 January 2020.

CN Tower, Toronto, Canada
Teteh yang sempat tinggal di New York selama 1 tahun,  saat itu masih berada di Toronto, Kanada.  Perusahaan tempatnya bekerja di RH New York City, USA sejak Agustus 2018, memberikan  promosi dan kemudian dia di transfer oleh perusahaan tersebut ke Toronto, Kanada untuk menjalani beberapa program di training centre tersebut. Kepindahannya pada bulan September 2019 ditargetkan akan dijalani sampai akhir tahun 2020. Tapi, manusia punya rencana, Allah juga lah yang berkehendak. Dunia begitu cepat berubah karena penyakit ini. Bahkan saat menuliskan ini, rasanya masih dibayangi perasaan bersyukur bahwa saya punya Allah dan memang kita hanya bisa bergantung pada Allah semata, karena tak ada yang bisa kita jangkau semuanya dengan pandangan mata, tangan maupun langkahh kaki kita. 

Pasien pertama Covid 19 positif Covid 19 di Kanada adalah seseorang yang baru saja melakukan perjalanan dari Wuhan dan tiba di Toronto pada tanggal 25 January 2020. Sejak itu, setiap hari kami berusaha membaca berita tentang keadaan disana. New Zealand mendapatkan 2 kasus pertama pada 28 Februari 2020 dan setelah itu semua  perubahan bergerak dengan cepat dari hari ke hari. Di Eropa dan Amerika, keadaan mulai memburuk dan pada pertengahan Maret Italia dan Perancis mulai memiliki angka kematian yang cukup tinggi.

Kejutan datang di tengah-tengah pandemik ini, tiba-tiba ipar saya di Indonesia menelpon untuk memberitahukan bahwa keponakan dari Perancis menuju ke Auckland dan akan mendarat tanggal 16 Maret. Waaahhhh....., serius kaget, karena di saat bersamaan kami juga kedatangan 3 tamu Indonesia yang setelah lama melakukan perjalanan di South Island, kini dalam perjalanan pulang ke Jakarta dan akan mampir ke Auckland dalam waktu yang hampir bersamaan dengan jadwal kedatangan keponakan Perancis, Jessica. 

Saat itu rumah jadi full house dan Alhamdulillah saat itu juga mulai ada ketentuan self-isolation yang berlaku, walau awalnya Jessica akan menginap langsung di apartment, tapi kami merasa tak tega karena ingat anak kami juga tak jauh umurnya dengan Jessica, pasti akan sedih di negara asing sendirian, tak ada keluarga dan harus menjalani isolasi. Alhamdulillah Jessica dalam keadaan sehat wal'afiat.

Pada tanggal 18 Maret 2020, Mentri luar negeri NZ, Winston Peter memanggil warga negara dan penduduk (PR) New Zealand yang masih berada di luar negeri baik yang bekerja ataupun liburann untuk segera pulang, sebelum terlambat, karena dunia luar sangat tidak kondusif dimanapun berada saat itu.

Saya kirimkan berita tersebut, di hari itu juga pada Teteh yang pada awalnya akan pulang ke Auckland di bulan April, saat Ramadhan tiba. Kami berbicara dan memintanya untuk  mempertimbangkan kepulangannya bisa dipercepat dengan mengganti tiket pulangnya lebih awal. Alhamdulillah dia setuju dan mencoba menelpon Air NZ esok harinya (19 Maret 2020) untuk merubah jadwal penerbangan, walaupun katanya harus menunggu hampir 3 jam di line telepon saat itu. Mashaa Allah. Kesabarannya menunggu diupayakan olehnya karena dia tahu, ini keadaan genting yang diperkirakan semua orang membutuhkan tiket untuk pulang. 

Subhanallah akhirnya dapat dan bisa dipercepat pada tanggal 25 Maret (artinya tanggal 26 Maret di New Zealand) dan baru akan sampai tanggal 27 Maret di Auckland. Masih seminggu lagi, dan hati saya hanya bisa menghiba pada Allah agar anak gadis kami dapat pulang dengan sehat, lancar di perjalanan dan selamat sampai ke pelukan kami. Di hari itu juga, Perdana Mentri New Zealand, Jacinda Arden menutup border negeri kecil ini dari dunia luar, tak ada seorangpun boleh masuk lagi, kecuali penduduk dan warga negara New Zealand. Penerbangan Air New Zealand dari seluruh dunia akan membawa pulang warganya sampai 30 Maret 2020 dan setelahnya penerbangan Internasional akan ditutup, kecuali ada perjanjian khusus untuk membawa warga negara New Zeland dan kebutuhan essensial. Australia dan New Zealand menutup border mereka dalam waktu yang hampir bersamaan, Australia menutupnya 1 hari setelah New Zealand.

Sungguh waktu yang pendek itu membuat kepulangan bunda Tatty dan rombongannya, tamu kami yang menginap, seakan diatur Allah tepat waktu. Bayangkan kalau beda sehari saja, tidak banyak pesawat yang bisa mengangkut keluar beliau untuk pulang. Seorang teman bercerita bahwa tamu mereka terpaksa mengganti tiket pesawat Emirates karena tidak bisa pulang dari Auckland ke Jakarta yang memakai Qantas. Setelah penutupan border, tak ada satupun penumpang asing diperbolehkan lagi terbang ke Australia, walaupun hanya transit. Kedua negara ini hanya mau dan akan mengurus warganya sendiri dalam keadaan sakit dan sehat, untuk masa pandemik ini dan tidak ingin terlalu diganggu oleh penularan orang asing. 

Teteh mengabarkan bahwa akhir pekan (20-21 Maret 2020) tempatnya bekerja akan melakukan pembersihan, dan mereka akan menutup bisnis tersebut sementara waktu, namun belum ada keputusan dan belum dtentukan kapan akan dibuka kembali. Semua karyawan masih akan mendapatkan gaji mereka. 

Tadinya Teteh hanya mau pulang lebih cepat, tapi rasanya dia tidak nyaman sendirian di apartment, keluar dan bersosialisasi terbatas dan merasa bahwa ini akan lama, maka keputusan cepat segera dibuat. Selanjutnya dia bicara pada pemilik apartment bahwa kemungkinan dia akan pulang seterusnya ke Auckland, karena 2 orang room mates nya yang dua-duanya dokter, telah pulang ke Jerman dan Vancouver. Maka, bebenahlah dia, serius packing karena bersiap-siap pindah untuk kembali pulang ke rumah. Ya...., dia akan pulang ke Auckland, New Zealand, bukan berkunjung seperti rencana awal. 

Terima kasih pada tante Amy Subhan dan keluarga yang membantu Teteh di saat-saat terakhir kepindahannya untuk pulang ke New Zealand.

Pengumuman lain datang dari pemerintah NZ adalah peningkatan "emergency alert level 4" alias masa "total lockdown", segera akan mulai diberlakukan tanggal 25 Maret. Setelah pengalaman masa self-isolation Jessica, tante Minet mengalah dan mencari tempat menginap di tempat lain, agar Teteh dan kakak Jess (begitu panggilan dari Teteh dan Adek padanya di rumah kami) bisa di kamar masing-masing dan self-isolation Teteh bisa dilakukan dengan benar. Ini keputusan cepat juga yang diambil tante Minet. Mashaa Allah. Semoga Allah memberikan balasan terbaik untuk tante Minet.

Saya tak henti berdoa setiap saat, sampai akhirnya Teteh mendarat dengan selamat pada tanggal 27 Maret di Auckland. Pesawat yang ditumpanginya adalah pesawat Air NZ yang langsung dari Toronto-Vancouver-Auckland tanpa transit kemana-mana lagi. Sungguh lega rasanya melihatnya sehat dan selamat di pelukan kami. Alhamdulillahirabbil 'alamiin. Kami jadi mendapat 2 anak gadis cantik di rumah. Keduanya dengan cepat menjalin persahabatan walaupun belum pernah bertemu, karena cerita-cerita dari keluarga yang sama. Kejutan menyenangkan mendapat tambahan keluarga, walaupun buat Jessica pastilah membosankan. Baru datang di New Zealand masuk self-isolation, lalu berlanjut pada total lockdown

Sungguh saya tak menyangka, Allah mengabulkan sebuah doa dengan cara yang amat unik. Saat Teteh memberitahu kami di bulan January bahwa dia akan pulang sebentar di bulan April, saya berdoa untuk bisa bersama-sama melewati Ramadhan tahun ini sampai Idul Fitri. Kelihatannya doa yang sederhana saat saya memintanya dengan sungguh-sungguh. Tapi, Allah Maha Mengetahui yang terbaik bagi kami secara keseluruhan. Allah kabulkan doa saya dengan cara yang sangat unik.

Ramadhan ini, kami bukan cuma berkumpul, tapi kami dapat melakukan sholat berjamaah di banyak waktu termasuk shubuh dan maghrib secara lengkap sebagai keluarga. Sahur bersama, buka puasa bersama dan kami tidak bisa kemana-mana selama masa 'lockdown'. Tidak bukber di komunitas Indonesia, tidak ada undangan bukber yang didatangi, tapi kami buka bersama sebagai keluarga lengkap setelah lama tidak kami lakukan. Semoga, Allah mengukir waktu yang berlalu dengan keindahan di hati anak-anak dan kenikmatan selama menjalani masa Ramadhan di musim wabah penyakit CoVid 19. Bersyukur kami terpenjara pandemi dan mau tak mau keadaan mengharuskan kami bersama. 
Allah berfirman dalam Al Qur'an

“Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. Dan Musa berkata: “Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” 

[QS. Ibrahim/14: 7-8]



Kisah selanjutnya ada di



Comments

Popular posts from this blog

BREMEN - MENAPAKI KENANGAN MASA LALU

                                                                  BREMEN, JERMAN SAKSI KEJAYAAN TEMBAKAU JEMBER DI EROPA Setelah kisah perjalanan kami dalam tulisan  Paris 1 dan Paris 2 , maka yang berikutnya kami menuju Bremen.  Maaf ya, kalau terlalu jauh penulisannya sebelumnya. Begitu banyak yang harus di prioritaskan, namun saya tetap kembali kesini akhirnya. Terima kasih buat yang sudah menunggu-nunggu tulisan berikutnya. Saya selesaikan tulisan perjalanan kali ini sekaligus,  untuk Bremen dan Berlin. Bremen adalah kota kecil yang tenang dan amat menyenangkan di Jerman. Tempat yang cantik, dimana orang tua saya menghabiskan sebagian waktu bersama adik-adik saya selama kurang lebih 8 tahun karena bapak saya  dipindah tugaskan ke sini sejak 1988 hinga beliau pensiun dan kembali ...

BAHASA IBU, BAHASA KELUARGA

Banyak yang mengatakan bahwa setiap anak berbicara dengan bahasa yang dimiliki ibunya, sehingga seringkali kita terbiasa dengan istilah bahasa Ibu atau dalam bahasa Inggris di sebut dengan "mother tongue". Entahlah, mengapa tidak disebut bahasa ayah. Barangkali memang ibu-ibu yang lebih sering ditempatkan sebagai pendidik di rumah, sehingga di dalam islam sering disebut bahwa ibu adalah madrasah keluarga dan menurut hasil riset ini , anak mendapatkan IQ dari genetik ibunya. Wallahu allam. Tumbuh di negara seperti Indonesia yang memiliki banyak bahasa daerah yang tetap dihidupkan oleh para orang tua yang memiliki bahasa tersebut pada awalnya saya merasa biasa saja. Dulu tak pernah merasa istimewa berbahasa Jawa di rumah dan saat berinteraksi dengan teman, lalu tanpa kesulitan kami semua berganti secara otomatis dengan berbahasa Indonesia saat di sekolah, membaca buku dan menonton televisi.  Keistimewaan "switch coding" tanpa kesulitan ini terlihat dan m...

TETEH, IBU MERTUA SAYA dan SAYA

Si  Tetèh, nama p anggilan Sunda di keluarga Jawa Anak perempuan kami, yang biasa kami panggil  Tetèh  seringkali begitu banyak mengingatkan saya pada ibu mertua. Kalau dilihat dari panggilannya saja, kata  Tetèh  sama sekali tidak ada hubungannya dengan asal-muasal saya yang keturunan Jawa asli. Sehingga kadangkala agak membingungkan teman-teman saya. Lebih mengejutkan lagi, jika bertemu dengan orang-orang yang baru mengenal saya dan terlanjur berbicara dengan saya dalam bahasa Sunda. Setelah yakin dan mengira saya asli Sunda..., eh ternyata di akhir cerita mereka bingung bahwa saya bukan Sunda, tapi punya anak dengan panggilan  Tetèh. Beginilah ceritanya. Memang saya adalah orang Jawa dan menikah dengan suami yang  keturunan Jawa-Sunda. Mertua saya almarhum sebetulnya memang orang Jawa asli, namun lama tinggal di Bandung. Sehingga hampir semua ke "Jawa"an beliau sudah banyak yang luntur. Sementara almarhumah ibu mertua saya adalah wa...