Skip to main content

BAHASA IBU, BAHASA KELUARGA


Banyak yang mengatakan bahwa setiap anak berbicara dengan bahasa yang dimiliki ibunya, sehingga seringkali kita terbiasa dengan istilah bahasa Ibu atau dalam bahasa Inggris di sebut dengan "mother tongue". Entahlah, mengapa tidak disebut bahasa ayah. Barangkali memang ibu-ibu yang lebih sering ditempatkan sebagai pendidik di rumah, sehingga di dalam islam sering disebut bahwa ibu adalah madrasah keluarga dan menurut hasil riset ini, anak mendapatkan IQ dari genetik ibunya. Wallahu allam.

Tumbuh di negara seperti Indonesia yang memiliki banyak bahasa daerah yang tetap dihidupkan oleh para orang tua yang memiliki bahasa tersebut pada awalnya saya merasa biasa saja. Dulu tak pernah merasa istimewa berbahasa Jawa di rumah dan saat berinteraksi dengan teman, lalu tanpa kesulitan kami semua berganti secara otomatis dengan berbahasa Indonesia saat di sekolah, membaca buku dan menonton televisi. 

Keistimewaan "switch coding" tanpa kesulitan ini terlihat dan menjadi istimewa dalam pandangan saya, justru setelah saya kembali kuliah di Auckland, New Zealand dan belajar English and New Media Study. Saat menulis "assignment" mata kuliah linguistik, saya merasakan perubahan yang luar biasa pada cara pandang saya terhadap bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang memang saya cintai sejak dulu. Saya terpesona bahwa ternyata orang tua kita di Indonesia yang mencintai bahasa daerahnya adalah orang-orang hebat karena bisa menghidupkan bahasa daerah secara turun menurun. Sehingga di seluruh Indonesia, rata-rata semua orang memiliki setidaknya 2 bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa daerah.

Lucunya saya tidak pernah merasa bahwa kami sehari-hari memakai 2 bahasa atau istilah kerennya "bilingual" itu. Keren ngga sih? Kok anehnya kita ngga ada yang merasa sekeren itu bisa bicara dua bahasa sih....., sayang ya? Menurut beberapa penelitian, anak yang terbiasa bicara 2 bahasa atau lebih, terbukti lebih cerdas dari anak lain yang hanya bicara 1 bahasa saja.

Tahun 2005, kami pindah ke Auckland, New Zealand, saat putri kami berusia 10 tahun dan dia biasa kami panggil Teteh. Sunda banget yak? Bisa di click disini ceritanya. Setahun kemudian saya melahirkan seorang anak laki-laki. Si Adek saat saya menuliskan ini, berusia 11 tahun. Di rumah, memakai bahasa Indonesia sebagai komunikasi keluarga adalah aturan yang menjadi keharusan. Mengapa kami memilih bahasa Indonesia dan bukan bahasa Jawa? Karena suami saya tidak mengerti bahasa tersebut. Ibu mertua saya berbahasa Sunda di rumah, jadi kami sebagai suami istri berbeda bahasa. Maka bahasa Indonesia lah yang jadi komunikasi kami sehari-hari. 

Bahasa inilah yang nantinya memungkinkan anak-anak kami berkomunikasi dengan lebih dari 250 juta orang Indonesia dari Sabang sampai Merauke saat mereka pulang kampung nantinya  dan bertemu sanak saudara atau teman. Konsepnya sederhana saja, kalau jaman dulu saya bisa memakai bahasa Jawa dan bahasa Indonesia sekaligus, lalu apa susahnya memakai bahasa Inggris dan Indonesia secara bersamaan? Sama kan?
Saya bukan satu-satunya yang menyukai konsep ini sebagai imigran di rantau. Rata-rata para ibu Asia seperti Korea, Cina dan Jepang juga masih berbicara dengan bahasa asal mereka pada anak-anaknya. Bahkan tulisan khusus yang dipakai dalam bahasa Cina, Jepang dan Korea juga diajarkan. Ibu-ibu migran dari Eropa tidak semuanya mempertahankan bahasa mereka, namun dari teman-teman baik Teteh ada yang masih memakai bahasa ibunya. 

Suatu hari ada 2 orang teman Teteh main ke rumah. Dua-duanya bermuka bule dan bicara bahasa Inggris. Lalu salah seorang minta ijin memakai telpon untuk menghubungi ibunya. Langsung saat itu dia bicara dengan bahasa Jepang selama 5 menit. Fasih dan sangat berbeda.., karena tiba-tiba gaya bicaranya sama sekali tidak seperti bule, namun benar-benar anak Jepang yang bicara pada ibunya. Yang seorang lagi dijemput oleh ibunya dan sempat terdengar mereka bicara dalam bahasa Italy yang sangat lancar. 
Hal yang seru juga terjadi saat saya menjemput Adek dari sekolah. Saat itu dia di kelas 3 dan saya menjemputnya dengan berjalan kaki. 
Sejalan dengan kami adalah Ben yang ibunya berasal dari Ukraine dan lama tinggal di Prague. Dia bicara bahasa Ukraine dan  Rusia dan secara khusus mengajar anaknya tulisan Rusia. Saat itu, dalam perjalanan pulang bersama saya, si ibu mengomel pada anaknya dan seperti juga saya, dia mengomel dengan bahasa asal..., dan aduuuuh..., lucu sekali mendengar si anak sambil mengayuh sepeda, menangis dan menjawab dalam bahasa ibunya. Peristiwa yang saya tak akan pernah lupa..., karena mengesankan sekali mendengar ada bahasa lain selain bahasa Inggris. Saat mengomel pula..., hahahahah. 

Sampai saat ini anak-anak tak terlihat aneh dalam berbahasa Indonesia, walaupun sejak kecil tinggal dan lahir di New Zealand. Sesekali bahkan ada International student yang datang dari Indonesia berpikir bahwa anak kami baru saja datang ke New Zealand, karena gaya bahasa si Teteh masih seperti anak Jakarta pada umumnya. Senang rasanya tidak kehilangan bahasa asal, bahasa ibu dan bahkan  lebih baik lagi jika kita bisa membekali anak-anak kita dengan lebih dari 2 bahasa. 

Cerita yang lain adalah tentang ibu cantik asli Madura menikah dengan warga negara Tunisia dan tinggal di New Zealand. Tunisia memakai bahasa Arab dan sebagai orang Madura si ibu mengajar suami berbahasa Indonesia karena dengan ilmu agama islam yang dimiliki, si bapak seringkali diminta mengisi pengajian komunitas Indonesia. Sehingga untuk memperlancar bahasa, anak-anak bicara dengan ibu dengan bahasa Indonesia, bicara dengan bapaknya berbahasa Arab. Di luar? Bisa ditebak bukan....., mereka bicara bahasa Inggris di sekolah dan juga dengan teman-temannya. Jadi bayangkan.... 3 bahasa lho! Saya pernah berkunjung ke rumah mereka, saat anak-anaknya masih di primary school dan kindergarten. Begitu tahu ibunya berbicara bahasa Indonesia dengan saya, mereka menjawab setiap pertanyaan saya denga bahasa Indonesia yang fasih. Terus terang...., saya takjub. 

Berdasarkan pengalaman, saya ingin berbagi tips untuk melancarkan praktek multi bahasa. 

Beberapa tips untuk membesarkan anak dengan bilingual atau multi lingual,

1. Niat dan Rencana : 

Seperti juga keinginan memberi bekal agama, menyekolahkan anak, les berenang atau hal lain, maka memberikan bekal dua atau tiga bahasa pada anak utk memakainya dalam keseharian pun perlu diniatkan, kemudian direncanakan. Ada kesepakatan diantara keluarga inti untuk merencanakan bagaimana menerapkan metode bahasa ini dalam kehidupan sehari-hari. Jika tidak ada rencana, maka tidak akan pernah ada kesepakatan. Tanpa ada niat, rencana dan kesepakatan tak akan pernah berjalan.

2. Sabar dan Perhatian :

Belajar itu perlu kesabaran, karena perlu waktu untuk memperbaiki kesalahan dan memastikan penggunaannya benar dan tepat. Kesalahan tata bahasa saat berbicara perlu perhatian khusus guna membantu mereka mengulang kata-kata, memperbaiki kosa kata sambil memuji atau menjelaskan kembali jika mereka menemukan kata-kata aneh atau yang tidak biasa. Jika kita tidak perhatian dengan penggunaan kata mereka, maka kita juga tidak bisa memperbaiki atau membantu mereka mengolah kata. 

Bentuk perhatian yang lain adalah memberikan buku-buku yang mereka sukai, namun dalam bahasa target. Misalnya, Adek suka buku "the Adventure of Tintin", maka perhatian dari pakDe dan buDe nya dengan ide hadiah dan oleh-oleh buku Petualangan Tintin berbahasa Indonesia, sungguh amat menarik. Walaupun akhirnya dia membaca bolak-balik judul yang sama antara buku bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Mungkin itulah cara dia mencocokkan padanan kata. 

3. Konsisten

Berhentinya suatu pembelajaran biasanya karena tidak konsisten. Jika kita tidak selalu memakai bahasa tersebut, bisa dipastikan transfer bahasa tidak akan pernah berjalan dan tidak bisa sempurna. Memang tidak ada kesempurnaan di dunia ini, tetapi jika kita menerapkan suatu pembelajaran secara terus menerus. Itu sebabnya jangan pernah berhenti, karena akan menyebabkan bahasa tidak lagi menjadi otomatis dalam pemakaiannya. Otomatisasi hanya bisa terjadi dalam setiap hal, jika itu dilakukan dalam waktu yang lama dan terus menerus. Pada saatnya nanti, mereka tidak akan perlu lagi mengingat, karena otomatis semua berjalan apa adanya. Sama seperti saat saya memakai bahasa Jawa. Setelah lama berpisah, tak bertemu dengan keluarga, saat saya bertemu dengan adik saya yang tinggal di Tauranga, secara otomatis saya tidak bicara bahasa Indonesia atau Inggris dengannya, tapi berbahasa Jawa. Sekalipun kami bertahun-tahun tinggal di New Zealand.

4. Perlu Waktu

Ingatlah, bahwa tidak ada yang bisa belajar dalam semalam. Belajar bahasa apapun bukanlah ilmu sulap yang bisa mendadak mengerti dan fasih hanya dalam sehari atau seminggu.  Investasikan waktu anda untuk berbicara dengan anak-anak dan berdiskusi jika ada kata-kata yang tidak tepat dalam penggunaannya dalam percakapan. Maka anak-anak akan mengingatnya sedikit demi sedikit akan memperbaiki. Semakin banyak bicara, maka kemahiran berbahasa akan makin terasah dan makin banyak kata-kata baru. 


Sekarang, Teteh putri kami yang berumur 22 tahun, menguasai 5 bahasa.  Yaitu bahasa Indonesia, Inggris, Korea, Italia dan Portugis. Ada yang bertanya, bagaimana bisa? Saya jawab, jika anak-anak kita biasakan bicara 2 bahasa atau lebih secara otomatis dalam kehidupan sehari-hari, maka menambah 2 sampai 3 bahasa lagi tentuunya lebih mudah daripada yang hanya menggunakan 1 bahasa saja setiap harinya. Tak ada salahnya mencoba pada anak-anak anda. Mempraktekkan hal ini tidak menyakitkan, tapi seperti tips di atas, ini menguji kesabaran anda. Sering-seringlah bicara dengan bahasa yang di targetkan, maka ilmu dan keahlian akan makin bertambah. Mudah-mudahan bisa memberi inspirasi. 







Comments

Popular posts from this blog

BREMEN - MENAPAKI KENANGAN MASA LALU

                                                                  BREMEN, JERMAN SAKSI KEJAYAAN TEMBAKAU JEMBER DI EROPA Setelah kisah perjalanan kami dalam tulisan  Paris 1 dan Paris 2 , maka yang berikutnya kami menuju Bremen.  Maaf ya, kalau terlalu jauh penulisannya sebelumnya. Begitu banyak yang harus di prioritaskan, namun saya tetap kembali kesini akhirnya. Terima kasih buat yang sudah menunggu-nunggu tulisan berikutnya. Saya selesaikan tulisan perjalanan kali ini sekaligus,  untuk Bremen dan Berlin. Bremen adalah kota kecil yang tenang dan amat menyenangkan di Jerman. Tempat yang cantik, dimana orang tua saya menghabiskan sebagian waktu bersama adik-adik saya selama kurang lebih 8 tahun karena bapak saya  dipindah tugaskan ke sini sejak 1988 hinga beliau pensiun dan kembali ...

TETEH, IBU MERTUA SAYA dan SAYA

Si  Tetèh, nama p anggilan Sunda di keluarga Jawa Anak perempuan kami, yang biasa kami panggil  Tetèh  seringkali begitu banyak mengingatkan saya pada ibu mertua. Kalau dilihat dari panggilannya saja, kata  Tetèh  sama sekali tidak ada hubungannya dengan asal-muasal saya yang keturunan Jawa asli. Sehingga kadangkala agak membingungkan teman-teman saya. Lebih mengejutkan lagi, jika bertemu dengan orang-orang yang baru mengenal saya dan terlanjur berbicara dengan saya dalam bahasa Sunda. Setelah yakin dan mengira saya asli Sunda..., eh ternyata di akhir cerita mereka bingung bahwa saya bukan Sunda, tapi punya anak dengan panggilan  Tetèh. Beginilah ceritanya. Memang saya adalah orang Jawa dan menikah dengan suami yang  keturunan Jawa-Sunda. Mertua saya almarhum sebetulnya memang orang Jawa asli, namun lama tinggal di Bandung. Sehingga hampir semua ke "Jawa"an beliau sudah banyak yang luntur. Sementara almarhumah ibu mertua saya adalah wa...