Skip to main content

RAMADHAN dan IDUL FITRI ala AUCKLAND

Auckland mulai dingin, dan tiba-tiba saya kembali dalam suasana bulan Ramadhan, padahal rasanya baru saja kemarin Idul Fitri dan Idul Adha 2014 dilewati. Tak terasa satu tahun berlalu dengan cepat kini sudah di pertengahan tahun 2015.


Tiap tahun, Ramadhan dan Idul Fitri selalu berbeda. Jika tahun 2014 tahun lalu, saya merasa bahwa memulai bulan Ramadhan tidaklah mudah mengendalikan hati dan pikiran. Saat itu pilpres yang waktunya bersamaan dengan bulan puasa dan seumur hidup tak pernah terbayangkan bahwa pilpres yang saat itu hanya diikuti 2 kandidat bisa menjadi pertarungan hebat dari para pendukung masing-masing kubu. Akibatnya teman facebook saya yang memang amat terbatas dan hanya sedikit itu telah membuat saya pusing tujuh keliling, karena hilangnya kenikmatan membaca status-status menarik dan berganti dengan kampanye. Juga twitter yang campur aduk. Bahkan ada yang bisa melakukannya setiap hari dan berlanjut setelah pemilihan sekalipun. Sampai-sampai saya memutuskan menghapus akun twitter saya karena amat terganggu.

FIFA world cup di Brazil yang waktunya hampir bersamaan, bahkan sama sekali bukan tandingan pilpres 2014. Bukan main....., keberhasilan demokrasi Indonesia yang mengharuskan kita semua belajar untuk bisa mencerna dengan kepala dingin, lapang hati dan toleransi tinggi. Tinggal menyaksikan  setelahnya, apakah memang yang terpilih sesuai dengan keinginan rakyat Indonesia.

Tahun ini, 1436 Hijriah atau tahun 2015, tampaknya lebih tenang dan nyaman. Seperti biasanya kami para Aucklanders muslim selalu harus bersabar dengan menunggu berita dari Federation Islamic Association New Zealand (FIANZ) tentang masuknya bulan Syawal. Hari Jumat menjelang maghrib telah diumumkan bahwa hilal komite telah memutuskan lebaran  jatuh hari Sabtu, 18 July 2015. Sementara di belahan dunia lain semua berlebaran pada hari Jumat. Mashaa Allah sedihnya. Tapi, menurut tim penentu hilal yang memilki perwakilan dari banyak komuniti, memang posisi New Zealand yang unik seringkali menjadikan penampakan bulan juga terlambat terlihat. 

Kadangkala, untuk yang tak berilmu seperti saya, ini sesuatu yang membingungkan. Bingung karena dari penanggalan masehi, negeri awan putih nan panjang atau disebut Aotearoa dalam bahasa Maori, letak kami menyebabkan New Zealand di posisi yang paling awal dalam penanggalan dan waktu, namun dalam penanggalan hijriah selalu saja tertinggal. Tapi, ya sudahlah. Walaupun kadangkala ini jadi bahan candaan di sosial media komunitas muslim dimana saja, saya sadar diri kalau memang bukan ahlinya dan tak punya kapasitas untuk berkomentar mengenai hal ini. Selain cuma..., sedih...., karena ketinggalan lebaran. Hu..hu....hu....

Winter dan cerita Ramadhan tahun ini buat saya amat menyenangkan untuk berpuasa. Saat belahan bumi lain, seperti Amerika, Eropa dan sebagian Asia berpuasa 17 jam atau lebih di musim panas, kami di bawah sini hanya sekitar 11 jam. Karena waktu shubuh di atas jam 6 pagi dan maghrib sekitar jam 5.17  di awal-awal Ramadhan, dan di saat akhir Ramadhan sekitar jam 5.21. Pendek bukan? Namun tetap saja ada saja yang Allah berikan dalam kenikmatan, karena di negera-negara yang memiliki 4 musim, waktu "summer" adalah waktunya libur panjang, maka tak heran jika banyak teman yang bermukim dan berpuasa di beberapa negara yang sedang panjang waktu puasanya tersebut, malah punya kesempatan mudik alias pulang kampung untuk berlebaran di Indonesia. Setiap ada kekurangan, selalu Allah beri kelebihan untuk hal yang lain.

Selain waktu puasa yang pendek, kami disini juga bersyukur, punya hal lain yang menyenangkan. Libur kuartal di sekolah-sekolah New Zealand yang biasanya hanya 2 minggu, kali ini jatuh di akhir Ramadhan dan masuk sekolah kembali setelah Idul Fitri. Walaupun itu artinya tetap tidak pas jika kami mudik, namun banyak sekali manfaat libur di saat seperti ini. Terutama bagi Zaky yang di umurnya masih 9 tahun dan telah berusaha untuk berkomitmen dengan  dirinya sendiri untuk puasa seharian penuh. 

Biasanya, saya penuhi masa liburan 2 minggu Zaky dengan kegiatan seperti "computer coding", olah raga seperti hockey, main ski, berenang  atau "survival life course" dll. Karena banyak juga tawaran menarik setiap liburan bagi yang tidak bepergian ke luar kota atau ke luar negeri. Sementara kakaknya yang telah dewasa dan kuliah di University of Auckland telah bisa mengatur kegiatan liburnya sendiri. Tapi berhubung iburan kali ini ramadhan, masa khusus dan spesial bagi kaum muslimin dan biasanya di Indonesia dulu Aliyya selalu masuk ke pesantren kilat atau kursus sejenis itu.Maka mumpung libur, maka kami juga ingin memberikan hal yang sama untuk Zaky di masa libur 2 minggu ini. Tapi...., ya Allah..., ternyata untuk sebagian warga Timur Tengah (Mesir, Iraq, Syria, Palestina dll) bulan ramadhan malah seringkali justru tidak ada kegiatan belajar mengajar seperti pesantren kilat. Lain ladang lain belalang rupanya ya? Padahal guru-guru Zaky di  madrasah Quran setiap hari minggu hampir semuanya berasal dari wilayah tersebut. Satu-satunya guru dari Singapore yang selalu bersemangat, akan mudik pula sampai bulan September. 

Tak kurang akal, sayapun berburu guru ke wilayah lain, karena ingat ada guru-guru TPQ (Taman Pendidikan Quran) milik orang Indonesia dan mengajar untuk komunitas Indonesia di sekitar Owairaka. Ibu guru Zaenab bilang cuma bisa mengajar seminggu, dan pak ustadz Zaid Assegaf juga demikian karena akan mudik seminggu sebelum lebaran. Setelah berdiskusi, ustadzah Zaenab bilang bahwa sebaiknya Zaky tidak berganti-ganti guru selama 2 minggu dan saya bisa mencari guru untuk 2 minggu penuh. Maka, kembali saya berpikir keras. Duuuh..., inilah bedanya menjadi minoritas, bahkan mencari guru agamapun musti berpikir keras. Eh, tiba-tiba teringat ada seorang bapak yang berilmu tinggi dalam agama dan sedang kuliah PhD di Auckland, namanya pak Rahmat Subarkah. Alhamdulillah ternyata beliau bisa dan akhirnya kesampaian juga mengisi holiday program Zaky dengan sesuatu yang cocok dengan bulan suci kali ini. Senang rasanya saya bisa memberi program liburan untuk Zaky kali ini dengan investasi akherat. 


Jadwal liburan Zaky dimulai dengan kelas berenang intensif 45 menit setiap pagi, lalu belajar Quran dan agama setelah dzuhur sampai lewat ashar, sekitar 2-3 jam tiap hari. Pak ustadz pengajar yang sedang menyelesaikan gelar PhD nya seringkali harus ke kampus. Jadi pertemuan belajar mengajar madrasah ini lebih banyak bertempat di masjid kampus AUT, yang berada di tengah kota Auckland. Sekali lagi, saya diberi kebahagiaan dan kembali bersyukur, karena anak saya jadi ke masjid hampir setiap hari atau setidaknya sejak Senin sampai Jumat selama masa liburan. Ma shaa Allah, ternyata nikmat akan niat itu dijawab Allah dengan cara yang menakjubkan.

Walaupun hanya 2 kegiatan pendek, tapi bagi Zaky ini amat berarti karena waktu puasanya jadi tak terasa. Setiap kali selesai dengan kegiatannya dan pulang ke rumah sudah mendekati waktu maghrib. Salah satu tujuan kami memberilan liburan Ramadhan selain memperdalam ilmu agama, adalah liburan tanpa main game dan komputer. Ini bisa tercapai dan banyak manfaat yang didapat. Selain itu hadir tiap hari di masjid juga membuahkan cerita yang lucu-lucu dari mulutnya walaupun itu hanya tentang orang yang tertidur di masjid. Hal lain adalah perasaan hati saya yang serasa di awang-awang dan terenyuh  rasanya setiap kali mendengar suara Zaky melantunkan surat-surat pendek Al Quran saat shalat. Dia mengeraskan suaranya karena ingin saya mengoreksi bacaannya jika salah. Barangkali umurnya yang masih 9 tahun itu pula yang membuat suaranya terdengar seperti malaikat kecil dan membuat saya sering merasa bahwa itu "sesuatu" banget. Mudah-mudahan Allah SWT sendiri yang akan menjaga diri dan hatimu sampai akhir hayat ya nak.

Lebaran tiba, dan kami berangkat sholat Id dan sampai di tempat, sekitar jam 7.30 pagi. Terlihat suasana yang  luar biasa di Rocket Park, Mount Albert - Auckland tempat yang di sewa oleh HUMIA (Himpunan Umat Muslim Indonesia di Auckland), tahun ini terlihat amat penuh dan banyak para jamaah Indonesia yang mukanya terlihat masih baru. Rupanya  wajah-wajah baru ini memang banyak  dari rombongan pelajar yang baru akan mulai semester depan.

Bagi kami yang di perantauan, berlebaran dengan sesama orang Indonesia adalah serasa kembali pulang pada keluarga. Apalagi jika melihat makanan yang ada. Ya Allah..., ada ketupat, opor ayam, rendang, sambel goreng ati sampai lontong. Duuuh...., hebat sekali. Walaupun waktu yang terbatas, dan hanya sempat menyapa sebagian dari ibu-ibu sebentar, cuaca winter bersamaan dengan hujan sejak pagi, tetap saja suasananya menarik untuk diabadikan. Terutama karena saya suka sekali mengamati banyak hal melalui kamera.

Saya belum pernah melakukan survey dan riset, namun saat seperti ini baru terasa, betapa Indonesia masih satu-satunya yang saya ketahui sebagai negara yang menghargai semua agama dengan memberikan hari libur nasional pada acara perayaan keagamaan, walaupn mereka minoritas, sehingga orang-orang yang beragama Hindu dan Budha sekalipun tak perlu minta ijin libur atau cuti untuk menjalankan hari besar agama mereka. Kami beruntung memiliki kantor di rumah, sehingga bisa mengatur jadwal kerja sendiri, maka liburpun bisa disesuaikan.

Di saat Idul Fitri, beberapa tahun belakangan ini sejumlah keluarga yang lebih muda dari kami beberapa kali menyempatkan diri untuk datang berkunjung ke rumah setelah pulang shalat Ied. Aaaahh....., rasanya saya mulai merasa makin tua jadinya. Karena dikunjungi bukanlah kebiasaan. Maklumlah, selama ini bapak dan ibu saya berada di urutan no 8 dari keluarga besar mereka, sehingga kamilah yang harus berkunjung. Lalu setelah menikah, saya mendapatkan suami sebagai anak bungsu dari 9 bersaudara dan keluarga saya sendiri tinggal di kota yang berbeda. Maka, lengkaplah hidup saya sebagai keluarga yang selalu harus berkunjung dan bukan di datangi atau dikunjungi, walaupun status saya adalah anak pertama. Nasib.....

Selain ibu-ibu muda yang cantik-cantik yang rajin bersilaturahmi ini, beberapa teman non muslim baik hati dan sebagian karyawan biasa berkunjung dan bersilaturahmi. Ini menyenangkan, mengharukan dan sekaligus kembali mengingatkan saya betapa umur kami sudah makin bertambah dan tetap bisa memiliki nikmat karena dikelilingi orang-orang yang baik. Sungguh, kebaikan dan pertemanan itu hanya bisa dilihat dalam jangka panjang. 

Sepintas, saya sempat berpikir bahwa menjadi seorang politikus pasti akan berbeda dalam mengartikan pertemanan. Karena cinta dan keikhlasan pertemanan tak akan mudah terlihat nyata. Menjalani hidup selama lebih dari 40 tahun saya merasakan betapa banyak kemudahan Allah SWT telah diberikan bagi kehidupan kami. Pertemanan memang berat , namun bisa menjadi saudara dan kedekatan yang berarti jika saja memiliki, 

  • Niat baik saat memulai, 
  • Saling menjaga amanah, 
  • Tidak bersuudzon dan 
  • Tidak bersiasat untuk keburukan atau membuatnya menjadi buruk

Allah berfirman dalam QS. Az-Zukhruf: 67, yang artinya,

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” 

Bahkan lebih jauh, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda,
“Seorang mukmin itu tidak punya siasat untuk kejahatan dan selalu (berakhlak) mulia, sedang orang yang fajir (tukang maksiat) adalah orang yang bersiasat untuk kejahatan dan buruk akhlaknya.” 
(HR. HR. Tirmidzi)

Kami saat ini tidak lagi terlalu banyak bergaul selain hanya menitipkan diri untuk mati di komunitas muslim, memohon perlindungan Allah agar terhindar menjadi orang yang fajir dan berusaha menjadi teman yang memiliki pengaruh baik dan memiliki banyak manfaat bagi teman-teman non muslim dan tetangga. Tak ada lagi musuh bagi kami, selain ujian sabar, menahan diri dan berlindung dari godaan syetan dan tak terbawa ke dalam semua siasatnya. 

Kembali pada acara Idul Fitri. Karena hal-hal di atas maka sejak tahun lalu mulailah kami membuka rumah kami yang awalnya memang berniat hanya untuk teman-teman yang selalu datang berkunjung pada kami selama ini, sehingga bisa diakomodir dalam satu hari saja. Maklumlah, pembantu kami hanya bibi "dishwasher" dan "vacuum cleaner".  Namun itulah seninya tinggal di Auckland. Justru bala bantuan seringkali datang tanpa disangka, tanpa dibayar dan tanpa diminta. 
Sama halnya dengan penyelenggaraan acara Idul Fitri di tiap komunitas muslim yang berisi orang-orang yang selalu bekerja sukarela dan bersedekah dengan sumbangan tenaga, pikiran, peralatan dan bahkan masakan, maka memiliki acara di rumah yang dulu menakutkan saya, akhirnya tidak lagi terasa berat, berkat teman-teman baik yang suka iseng membereskan "sesuatu" sebelum mereka pergi. Satu-dua orang, walau cuma sedikit,  tapi rasanya amat membantu memepercepat rumah saya menjadi rapi kembali. Yang terasa luar biasa adalah, karena kami tidak saling bersandar, tidak merasa ada kewajiban, namun bisa saling senang saat melakukannya karena keterikatan batin dan rasa kedekatan. Sama sekali tak ada tuntutan, hanya rasa saling mengerti. Walaupun siapapun bisa mengerti pula, siapa-siapa yang sering memanfaatkan sikap orang-orang baik ini untuk kepentingan mereka.  

Sungguh, saat berada di Indonesia perasaan-perasaan ini seringkali membuat saya kangen untuk kembali berlebaran di Auckland. Kangen pada suasana lebaran dengan permainan anak-anak, es krim, masakan yang dibuat dalam semalam, dapur yang berisi ibu-ibu yang amat ikhlas memasak, mencuci piring, dan bapak-bapak yang saling memungut sampah, membereskan piring-piring kotor, membuka dan melipat meja, para pelajar musiman yang membuat acara anak-anak dan banyak lagi. 


Sekarang, saya akan menginjak tahun ke 11 hidup di negeri cantik ini.  Mereka yang di Auckland adalah bagian dari hidup saya. Sebagian dari mereka telah menjadi saudara-saudara saya, dan merekalah yang mengisi batin saya seperti juga teman dan saudara-saudara yang telah mengisi hidup saya di Indonesia. Saudara....., ternyata hanya kita yang bisa merasakannya dan mengerti siapa mereka. Saudara dan teman, ternyata itulah kelak yang akan kita cintai dan kita sebut-sebut saat di hari pengadilan. Pastikanlah kalian memang mencintainya dan membawa kebaikan bagi mereka. 

Setiap kali anak saya bilang bahwa dia "kiwi", saat itu pula saya katakan, ya sayang, kamu "kiwi" yang  di dalamnya mengalir darah Indonesia. Kamu, etnikmu dan akarmu, tetap Indonesia. Ya, kan kalau ngisi form ada ethnicity..., mau ngisi apa coba?  Pastinya harus ditulis South East Asia, other Asian atau Indonesia. Gitu kan? Tetep.   Ooooh...., sudah-sudah, mata saya mulai lagi berkaca-kaca karena jadi ingat para teman dan saudara yang saya rindukan,  dimanapun mereka berada. 


SELAMAT IDUL FITRI SAUDARAKU dan SAHABATKU
SALAM SAYANG dari AUCKLAND

Ikuti perjalanan lain, di negara lain dan follow untuk dapat notifikasi tulisan terbaru. 





Comments

Popular posts from this blog

BREMEN - MENAPAKI KENANGAN MASA LALU

                                                                  BREMEN, JERMAN SAKSI KEJAYAAN TEMBAKAU JEMBER DI EROPA Setelah kisah perjalanan kami dalam tulisan  Paris 1 dan Paris 2 , maka yang berikutnya kami menuju Bremen.  Maaf ya, kalau terlalu jauh penulisannya sebelumnya. Begitu banyak yang harus di prioritaskan, namun saya tetap kembali kesini akhirnya. Terima kasih buat yang sudah menunggu-nunggu tulisan berikutnya. Saya selesaikan tulisan perjalanan kali ini sekaligus,  untuk Bremen dan Berlin. Bremen adalah kota kecil yang tenang dan amat menyenangkan di Jerman. Tempat yang cantik, dimana orang tua saya menghabiskan sebagian waktu bersama adik-adik saya selama kurang lebih 8 tahun karena bapak saya  dipindah tugaskan ke sini sejak 1988 hinga beliau pensiun dan kembali ...

BAHASA IBU, BAHASA KELUARGA

Banyak yang mengatakan bahwa setiap anak berbicara dengan bahasa yang dimiliki ibunya, sehingga seringkali kita terbiasa dengan istilah bahasa Ibu atau dalam bahasa Inggris di sebut dengan "mother tongue". Entahlah, mengapa tidak disebut bahasa ayah. Barangkali memang ibu-ibu yang lebih sering ditempatkan sebagai pendidik di rumah, sehingga di dalam islam sering disebut bahwa ibu adalah madrasah keluarga dan menurut hasil riset ini , anak mendapatkan IQ dari genetik ibunya. Wallahu allam. Tumbuh di negara seperti Indonesia yang memiliki banyak bahasa daerah yang tetap dihidupkan oleh para orang tua yang memiliki bahasa tersebut pada awalnya saya merasa biasa saja. Dulu tak pernah merasa istimewa berbahasa Jawa di rumah dan saat berinteraksi dengan teman, lalu tanpa kesulitan kami semua berganti secara otomatis dengan berbahasa Indonesia saat di sekolah, membaca buku dan menonton televisi.  Keistimewaan "switch coding" tanpa kesulitan ini terlihat dan m...

TETEH, IBU MERTUA SAYA dan SAYA

Si  Tetèh, nama p anggilan Sunda di keluarga Jawa Anak perempuan kami, yang biasa kami panggil  Tetèh  seringkali begitu banyak mengingatkan saya pada ibu mertua. Kalau dilihat dari panggilannya saja, kata  Tetèh  sama sekali tidak ada hubungannya dengan asal-muasal saya yang keturunan Jawa asli. Sehingga kadangkala agak membingungkan teman-teman saya. Lebih mengejutkan lagi, jika bertemu dengan orang-orang yang baru mengenal saya dan terlanjur berbicara dengan saya dalam bahasa Sunda. Setelah yakin dan mengira saya asli Sunda..., eh ternyata di akhir cerita mereka bingung bahwa saya bukan Sunda, tapi punya anak dengan panggilan  Tetèh. Beginilah ceritanya. Memang saya adalah orang Jawa dan menikah dengan suami yang  keturunan Jawa-Sunda. Mertua saya almarhum sebetulnya memang orang Jawa asli, namun lama tinggal di Bandung. Sehingga hampir semua ke "Jawa"an beliau sudah banyak yang luntur. Sementara almarhumah ibu mertua saya adalah wa...