Cintai dan berikan pelukan tanpa batas waktu....
Seorang teman pernah datang bertamu di rumah dan kami ngobrol tentang sekitar kehidupan kami sebagai orang tua dalam membesarkan anak-anak. Sempat terucap seperti ini,"Gimana ya, anakku hidup dengan caranya sendiri dan memilih pilihan yang sebetulnya aku tak terlalu suka. Tapi dia sudah dewasa dan aku tak bisa berbuat apa-apa". Nah..., siapa bilang gampang menjadi ibu atau orang tua? Ternyata kita memiliki masalah-masalah yang tak jauh berbeda.
Saya katakan padanya, bahwa anak-anak kita bukanlah robot yang bisa diatur sesuai keinginan kita, tapi pastinya sebagai orang tua kita bisa membuat program untuk mereka sebagai pedoman hidup sesuai pengetahuan dan nilai-nilai yang kita miliki. Setelahnya, kita hanya bisa berdo'a pada Allah SWT, supaya semua membawa kebaikan bagi mereka.
Tetapi...., ya itu tadi, karena mereka bukan robot, kita juga tidak bisa mengawasi mereka selama 24 jam terus menerus dan memasang remote control pada mereka. Karena mereka manusia-manusia cerdas ciptaan Allah yang bisa berpikir, memiliki hati dan juga perasaan. Perlu bantuan dari kanan-kiri untuk membesarkan seorang anak, apalagi lebih dari satu anak. Karena mereka semua berbeda dan memiliki keunikan masing-masing.
Pada kursus parenting yang pernah saya ikuti di Yayasan Buah Hati di masa lalu sekitar tahun 1997-1998, yang diselenggarakan oleh ustadzah Neno Warisman dan ibu Elly Risman disebutkan bahwa anak memiliki masa pendekatan yang berbeda pada setiap masa, yaitu:
- Umur 0-7 tahun : Dimanja bagai raja, peraturan mulai diperkenalkan .
- Umur 7-14 tahun : Ujian konsistensi aturan.
- Umur 14-seterusnya : Bersahabat dengan anak
1. Umur 0-7 tahun
Tak bisa dipungkiri bahwa di umur ini mereka masih menjadi anak-anak manis dan menyenangkan. Rasanya semua kemanjaan dan cinta ingin kita tumpahkan bagaikan raja dan ratu. Tetapi ingatlah, jika di usia ini kita tak mulai menetapkan peraturan, bisa dipastikan bahwa kita akan menarik otot pada hal-hal yang amat mendasar. Sehingga penting untuk mulai menerapkan perilaku yang mendasar sesuai nilai-nilai yang di anut. Misalnya, harus duduk saat makan, mengucapkan terima kasih, minta maaf, tidak mencampuri pembicaraan orang lain sebelum mereka selesai bicara, mengenalkan agama dan mengajarkan rutinitas di dalamnya. Di dalam Al Qur'an pun disebutkan:
“Wahai anakku, dirikan shalat, suruhlah kebaikan, laranglah kemungkaran, dan bersabarlah atas musibah yang menimpamu. Sesungguhnya hal itu termasuk yang diperintahkan oleh Allah.” (Lukman: 17)
Shalat, belajar kebaikan dan melarang kemungkaran sudah selayaknya diajarkan sejak dini, agar menjadi suatu kebiasaan nantinya. Tegaslah pada diri sendiri, bahwa ini penting untuk diajarkan dan jangan pernah menunda atau menunggu sampai umur tertentu. Ajarkan dengan cara yang yang menyenangkan dan sesuai umur mereka.
2. Umur 7-14 tahun.
Inilah ujian bagi konsistensi atas aturan-aturan yang telah kita diterapkan pada anak. Banyak hal yang akan diperdebatkan oleh anak-anak. Terlebih di saat berumur 10 tahun ke atas, yang kita kenal sebagai proses anak baru gede (ABG). Anak-anak ini merasa paling tahu sedunia, sehingga para orang tua dianggap tak banyak tahu, itu sebabnya mereka mulai mengajak berbantah-bantahan dengan maksud untuk memberi tahu orang tuanya, bahwa mereka lebih tahu. Saat-saat seperti ini adalah ujian bagi para orang tua untuk menguji konsistensi setiap aturan yang telah mereka tetapkan sebelumnya. Bertahanlah dan jaga mulut agar tak mengucapkan ucapan-ucapan yang akan membawa penyesalan kelak. Jika kita tidak konsisten dalam aturan, maka akan susah mengembalikan mereka pada rel nya. Mulailah mendekat pada mereka dengan lebih terbuka dan terus menerus. Selain itu, sabar adalah kata kunci serta ujian besar di masa-masa ini.
3. Umur 14-dewasa
Inilah saatnya mendengarkan mereka dan mencoba mengerti apa pendapat mereka. Karena usia ini adalah perjalanan menuju dewasa. Tentu bukan berarti masa manja mereka berakhir, tetapi mereka sudah harus mulai tahu konsekuensi dan tanggung jawab dari setiap peraturan yang diterapkan dan dampaknya bagi dirinya dan juga orang lain. Semakin jujur mereka bicara, semakin baik. Jangan jadikan hal yang berdampak melawan nilai-nilai selalu menjadi topik kemarahan. Namun bersiaplah untuk mengantisipasi jika diterjang dan diserang dengan perdebatan panjang oleh mereka dengan tenang dan berpikir panjang. Jangan lupa selalu melihat, bahwa setiap sisi yang kita ungkapkan pada mereka bukanlah untuk kepentingan kita sebagai orang tua, namun untuk kebaikan mereka. Jika semua kita lakukan dengan penuh cinta dan ikhlas, Inshaa Allah kita akan lebih bisa menerima setiap cerita mereka dengan lapang dada sambil tak lupa tetap memberitahukan semua kebenaran atas setiap kejadian. Jangan pula merasa malu jika tak dapat menjawab. Jujur dan mintalah waktu untuk berpikir. Kadangkala kita perlu berpikir panjang sebelum menjawab atau memutuskan.
Sesungguhnya...teori ini amatlah ideal...., tetapi pelaksanaannya? Mashaa Allah..., susahnya bukan main. Maklumlah, tak ada buku panduan untuk setiap anak yang lahir. Padahal seperti yang saya sebutkan, setiap anak lahir dengan keunikan masing-masing yang amat mengagumkan.
Saya katakan pada teman saya tadi, tentang beberapa hal yang telah dicontohkan dalam Al Qur'an, bahwa para Nabi Allah pun mengalami banyak tantangan yang serupa dalam mengajarkan kebaikan pada putra-putri mereka. Kita bisa mulai dari kasus Nabi Adam AS, dimana saat itu putra beliau adalah orang pertama yang menjadi pembunuh di bumi ini, lalu kisah Nabi Yakub AS dan putranya Nabi Yusuf AS yang saudara-saudaranya melakukan kecurangan dan berbuat jahat pada saudara kandungnya sendiri, belum lagi Nabi Nuh AS yang gagal mengajak putranya untuk mengikuti iman yang dimilikinya. Bukan berarti mereka manusia gagal, tetapi karena para Nabi sebagai manusia pilihan mengajarkan pada manusia-manusia unik yang memiliki perilaku dan kemampuan berpikir. Oleh karenanya, apapun yang kita diajarkan oleh pada mereka belum tentu akan diterima dan berjalan sesuai dengan keinginan kita. Namun sebagai orang tua, kita semua berharap, bahwa mereka akan menjadi lebih baik dalam kehidupan mereka.
Duuuh..., tidakkah sebetulnya ini lebih diniatkan untuk menghibur diri saya sendiri? Karena tetaplah, sebagai ibu dan orang tua, saya pikir kita semua memang harus berusaha sebaik-baiknya sambil berharap-harap cemas dan berdo'a tanpa batas waktu pula, alias seumur hidup memikirkan mereka dengan sepenuh hati.
Duuuh..., tidakkah sebetulnya ini lebih diniatkan untuk menghibur diri saya sendiri? Karena tetaplah, sebagai ibu dan orang tua, saya pikir kita semua memang harus berusaha sebaik-baiknya sambil berharap-harap cemas dan berdo'a tanpa batas waktu pula, alias seumur hidup memikirkan mereka dengan sepenuh hati.
Teman saya sempat lega dan kami ngobrol banyak hal setelahnya, tentang cara dan gaya hidup dan juga pola pikir. Tapi entahlah...kok malah akhirnya saya yang jadi sempat berpikir, apa saya sendiri sudah menjadi ibu yang baik? Apa yang telah saya ajarkan pada anak-anak selama ini sudah benar? Apa justru saya terlalu cerewet dan membuat mereka tidak antusias dengan nilai-nilai yang saya anut? Waduuuh....., sejuta pikiran ada di benak saya. Sungguh ini pertanyaan yang perasaan yang luar biasa setiap kali ada yang bercerita tentang anak-anak mereka, atau ada hal-hal yang terjadi pada anak kami, terutama jika mulai menjurus kepada hal-hal di luar nilai yang kami anut. Walaupun beberapa teman mengatakan bahwa kadang saya agak berlebihan, karena di luar sana banyak anak yang memiliki masalah yang jauh lebih mengkhawatirkan.
Putri pertama kami beranjak dewasa, dan dia dikarunia sifat pemaaf, pandai bersosialisasi, menyenangkan dan memiliki kecerdasan. Tak urung semua sifat ini membuatnya mempertanyakan banyak hal tentang semua nilai yang kami anut dan kadangkala dia memiliki sejuta alasan atas dasar toleransi dengan teman-temannya dan juga sifatnya yang begitu percaya diri telah membuatnya sering merasa bahwa dia akan dapat menjaga diri. Namun dia hidup dan dibesarkan di negeri seperti New Zealand, yang kadangkala membuatnya berpikir dengan cara yang berbeda dengan kami sebagai orang tuanya yang tumbuh besar di Indonesia. Walaupun secara akhlak rasanya negeri kecil ini lebih memiliki dampak positif daripada negatifnya.
Jujur saja, di Indonesia anak-anak bisa bebas menonton film tanpa batas umur dan tak pernah diperiksa identitas mereka jika mereka akan menonton film yang belum diperbolehkan untuk umurnya. Pembelian rokok, majalah-majalah dewasa dan alkohol untuk anak-anak di bawah umur juga tak begitu ketat. Bahkan pemeriksaan alkohol di tempat pertunjukan juga tidak ada, sementara di New Zealand hampir mustahil melakukan semua itu, kecuali ada orang dewasa yang membantunya. Namun sampai saat ini hal seperti ini masih dianggap memalukan atau tidak pantas secara umum. Kesadaran yang tinggi juga mengakibatkan tidak banyak para penonton suatu pertunjukan yang membawa kendaraan, terlebih yang biasa minum bir sebelumnya. Karena kerasnya hukuman bagi pengendara yang mabuk tanpa pandang bulu. Juga tak ada yang akan mengijinkan anak-anak di bawah umur masuk ke dalam pertunjukan dewasa atau membeli buku-buku sejenis itu dengan mudah. Amat sulit dan jarang bisa ditembus.
Jujur saja, di Indonesia anak-anak bisa bebas menonton film tanpa batas umur dan tak pernah diperiksa identitas mereka jika mereka akan menonton film yang belum diperbolehkan untuk umurnya. Pembelian rokok, majalah-majalah dewasa dan alkohol untuk anak-anak di bawah umur juga tak begitu ketat. Bahkan pemeriksaan alkohol di tempat pertunjukan juga tidak ada, sementara di New Zealand hampir mustahil melakukan semua itu, kecuali ada orang dewasa yang membantunya. Namun sampai saat ini hal seperti ini masih dianggap memalukan atau tidak pantas secara umum. Kesadaran yang tinggi juga mengakibatkan tidak banyak para penonton suatu pertunjukan yang membawa kendaraan, terlebih yang biasa minum bir sebelumnya. Karena kerasnya hukuman bagi pengendara yang mabuk tanpa pandang bulu. Juga tak ada yang akan mengijinkan anak-anak di bawah umur masuk ke dalam pertunjukan dewasa atau membeli buku-buku sejenis itu dengan mudah. Amat sulit dan jarang bisa ditembus.
Sekali lagi, anak bukanlah robot yang dapat kita awasi 24 jam, namun harus diakui karena komunikasi dan kedekatan kami, putri kami amat jujur menceritakan segala hal pada kami sebagai orang tuanya. Kadangkala cerita tentang teman-temannya masuk tanpa sensor. Sehingga kadangkala ceritanya tentang kejadian di sekitarnya suka membuat saya tegang. Walaupun berusaha tenang dan cerita itu bukan tentang dirinya, namun tak urung saat sholat tumpah pula air mata karena mati-matian meminta perlindungan Allah beserta jutaan malaikat yang dimiliki Nya agar dia memiliki teman-teman yang bermanfaat bagi hidupnya dan cerita-cerita tersebut menjadi contoh indah dan hikmah baginya.
Yang menyenangkan dari kejujurannya adalah, saya berkesempatan bicara tentang pendapat-pendapat dari semua sisi tentang setiap peristiwa. Jika saatnya tepat bahkan seringkali amat nyaman bicara dari sisi agama dan dia bisa menerima tanpa merasa digurui. Namun tak urung di saat-saat tertentu saya harus keras walaupun sudah pasti akan ditinggal pergi karena dia tak ingin mendengarkan atau di saat lain juga menahan diri, karena tahu bahwa saya juga pernah muda dan penuh gejolak seperti dirinya dan teguran adalah perlu.
Seorang saudara yang pernah bertamu di rumah kami menganggap saya terlalu cerewet padanya. Akhirnya di saat lain saat saya tanyakan pada putri tersayang kami akan hal ini dan berjanji akan mengurangi teguran-teguran keras padanya saat dia melakukan kesalahan, karena terus terang..., saya juga sebagai ibu seringkali merasa bersalah melihatnya telah jujur, tapi saya kemudian membuatnya menangis karena kesal dengan nasehat-nasehat dari ibunya ini saat dia bercerita, walaupun saya berusaha mencari bahasa yang tepat untuknya. Tapi dengan ketus pula dia berkata "Bu..., biasa aja lagi buuu...., normal...., hampir semua anak normal pasti nglawan seperti itu sama ibunya....dan ibu harus bicara seperti itu..., karena ibu adalah ibu Teteh (dia menyebut dirinya Teteh). Apa enaknya aku didiemin ibu? Kan kalau ibu masih ngomel, artinya ibu itu masih ibu yang normal". Haaaaaaa......
Mashaa Allah.....senangnya hati ini!! Ternyata saya dibilang ibu yang normal. Heheheheh..., Alhamdulillah. Rasanya tak ada yang bisa diungkapkan dengan kata-kata, bahwa dibalik jawaban yang ketus itu...., dia hanya mau bilang.... "Aku tahu...., ibu sayang sama aku". Begitu bukan? Alhamdulillah. Entahlah mungkin ini pikiran positif yang terlalu senang dengan ucapan ketusnya yang mengejutkan itu.
Setiap orang tua berharap dan berkeinginan agar anak-anaknya berjalan di tempat lurus, bahagia dan sukses. Namun karena mereka bukan sebuah robot, maka banyak keingin tahuan yang seringkali di coba-coba dan beresiko dalam hidup ini, sehingga apapun bisa terjadi pada mereka. Naudzubillahi min dzaliik. Adalah kewajiban kita sebagai orang tua untuk tidak berputus asa mendo'akan mereka. Seperti firman Allah berikut ini:
“Katakanlah: “Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
(QS Az Zumar: 53)
(QS Az Zumar: 53)
Saya ingat cerita-cerita tentang Inneke Kusherawati di masa lalu, dan beberapa kali di kasusnya saya melihat di televisi, dia memiliki ibu yang selalu berada di sampingnya di saat-saat sulit. Ibunya berjilbab dan tak banyak bicara. Tak terbayangkan pasti, hujatan macam apa saat itu pada ibunya yang begitu tekun beribadah namun memiliki seorang anak yang tak tanggung-tanggung kasusnya di depan masyarakat umum. Namun Allah SWT selalu membuka pintu taubat sebelum ajal menjemput. Barangkali perubahan yang terjadi padanya saat ini adalah hasil do'a ibunya yang terus menerus dan selalu menjadi sahabat baginya di segala situasi dan keadaan.
Contoh lain yang saya ingat adalah kata-kata indah yang pernah diucapkan ibunya Bimbim, salah satu pemain band SLANK saat diwawancarai tentang penyembuhan anaknya dari ketergantungan narkoba.
- Reporter : Apa anda menyesal memiliki anak yang pernah kena narkoba?
- Bunda : Mengapa saya harus menyesal? Dia melakukannya saat umur 25 th
- Reporter : Jadi?
- Bunda : Dia sudah dewasa dan memilih. Tapi saya ibunya.., dia anak saya dan saya mencintainya. Jadi sudah semestinya saya juga yang terus menerus mendampinginya dan juga mendo'akannya agar suatu hari dia bebas dari ketergantungan obat.
Percaya atau tidak, ibunya lah yang merawatnya sendiri saat ananda tercinta datang sendiri menghadap kepada beliau dan mengatakan dia ingin terbebas dari narkoba. Ibunya yang melakukan perawatan itu, sejak menunggui, mengikat di ranjangnya, membersihkan kotorannya dan menjalani hari-hari panjang sambil menangis dan berdoa untuknya sampai terbebas dari sakau nya. Mashaa Allah, sampai sekarang rasa kagum saya tak juga bisa hilang setiap kali mengingat peristiwa-peristiwa ini, walaupun tak berhadapan langsung.
Tentu kita tak ada yang berkeinginan mempunyai anak yang jauh melampaui nilai-nilai yang kita anut. Naudzubillahi min dzaliik. Namun dari contoh di atas, artinya....., saya belajar bahwa kita harus selalu melihat diri sendiri dan tahu diri untuk bisa berinstropeksi. Karena sebetulnya hal yang tersulit menjadi ibu adalah menjadi contoh atau role model bagi anak sendiri dan bisa menjadi tempat pulang bagi anak-anak.
Ingin memiliki anak-anak yang selalu jujur, tak akan pernah terjadi jika kita sendiri tak pernah jujur dalam kesehariannya. Ingin menjadikan anak-anak yang penuh cinta, namun kehidupan kita sebagai orang tua selalu bicara penuh kebencian pada orang lain. Bagaimana mungkin? Orang tua seringkali tak menyadari bahwa anak-anak adalah penjiplak yang terbaik di masa depan.
Ingin memiliki anak-anak yang selalu jujur, tak akan pernah terjadi jika kita sendiri tak pernah jujur dalam kesehariannya. Ingin menjadikan anak-anak yang penuh cinta, namun kehidupan kita sebagai orang tua selalu bicara penuh kebencian pada orang lain. Bagaimana mungkin? Orang tua seringkali tak menyadari bahwa anak-anak adalah penjiplak yang terbaik di masa depan.
Berkaca dari teman kami pula, saya belajar untuk menjadi lebih bijak menyikapi dan melihat lagi semua hari-hari yang dijalani putri kami yang sedang tumbuh menjadi dewasa. Apapun yang akan dilaluinya, kami harus bisa memeluknya untuk membisikkan cinta dan doa. Tak segan-segan kami mengucapkan kata-kata penuh cinta untuknya dalam segala situasi, dan ini berdampak amat menyenangkan. Karena setiap kali kami mengalami kesulitan berkomunikasi, kami tahu, bahwa ternyata semua yang didasarkan rasa cinta menjadi lebih mudah penyelesaian. Jika selalu bisa bersahabat, walaupun kadangkala keputusan dan sikapnya berseberangan di saat-saat tertentu, rasanya sebagai orang tua kita masih bisa mencapai kesepakatan dengan cara yang amat nyaman.
Sebetulnya yang lebih menyedihkan adalah tuntutan yang berlebihan dari para orang tua. Mereka mendidik anaknya, seringkali untuk melampiaskan ambisi, keinginan masa lalu dan menjaga reputasi. Padahal itu bukanlah keinginan sang anak. Tentu saja, bukan berarti pula kita bisa melepaskan mereka begitu saja agar dengan bebas mereka bisa memilih dan menentukan apa saja yang mereka mau. Karena mereka perlu diberi penjelasan atas kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi atas pilihan hidupnya.
Jujur saja, kita telah menyaksikan banyak hal dari kehidupan sebelum anak-anak kita, maka tugas kita untuk menjadikannya hikmah sebagai tambahan wawasan bagi mereka dan tidak malu untuk mengakui kesalahan di masa lalu tanpa mempermalukan diri sendiri untuk mencari penjelasan yang cermat sebagai pelajaran berharga bagi mereka. Karena kesalahan dalam cara penyampaian juga akan bisa berakibat fatal. Bukan hikmah yang akan didapat, namun tak jarang justru akan menjadi bumerang bagi kita sendiri. Sebagian besar contoh, layak untuk menjadi pelajaran berharga yang dapat membuka pikiran anak-anak kita atas segala resiko atas pilihan hidupnya. Suka atau tidak suka, setiap orang bertanggung jawab pada hidupnya sendiri bukan? Ingatlah, harta akan habis namun nilai mulia dalam hati dan pikiran anak-anak dan pendidikan yang baik tak akan pernah lenyap dari diri mereka.
Surga ada di bawah telapak kaki ibu, begitulah kata pepatah. Saya lebih mengartikan seperti ini.., hidup di dunia ini amat banyak tantangan, kesedihan dan air mata untuk mencapai tujuan dan keinginan. Sehingga anak-anak kita memerlukan bantuan dari seorang ibu. Bantuan untuk memeluknya di saat sedih dan menjadikan hidup seorang ibu sebagai rumah dalam hati anak-anaknya. Mereka juga perlu do'a dan cinta setiap waktu, setiap saat. Itulah arti SURGA DIBAWAH TELAPAK KAKI IBU yang sebenarnya dalam pandangan saya. Kata-kata cinta yang digambarkan pada seorang anak dalam sebuah lagu di film Tarzan ini selalu membuat saya terharu biru.
Jujur saja, kita telah menyaksikan banyak hal dari kehidupan sebelum anak-anak kita, maka tugas kita untuk menjadikannya hikmah sebagai tambahan wawasan bagi mereka dan tidak malu untuk mengakui kesalahan di masa lalu tanpa mempermalukan diri sendiri untuk mencari penjelasan yang cermat sebagai pelajaran berharga bagi mereka. Karena kesalahan dalam cara penyampaian juga akan bisa berakibat fatal. Bukan hikmah yang akan didapat, namun tak jarang justru akan menjadi bumerang bagi kita sendiri. Sebagian besar contoh, layak untuk menjadi pelajaran berharga yang dapat membuka pikiran anak-anak kita atas segala resiko atas pilihan hidupnya. Suka atau tidak suka, setiap orang bertanggung jawab pada hidupnya sendiri bukan? Ingatlah, harta akan habis namun nilai mulia dalam hati dan pikiran anak-anak dan pendidikan yang baik tak akan pernah lenyap dari diri mereka.
Surga ada di bawah telapak kaki ibu, begitulah kata pepatah. Saya lebih mengartikan seperti ini.., hidup di dunia ini amat banyak tantangan, kesedihan dan air mata untuk mencapai tujuan dan keinginan. Sehingga anak-anak kita memerlukan bantuan dari seorang ibu. Bantuan untuk memeluknya di saat sedih dan menjadikan hidup seorang ibu sebagai rumah dalam hati anak-anaknya. Mereka juga perlu do'a dan cinta setiap waktu, setiap saat. Itulah arti SURGA DIBAWAH TELAPAK KAKI IBU yang sebenarnya dalam pandangan saya. Kata-kata cinta yang digambarkan pada seorang anak dalam sebuah lagu di film Tarzan ini selalu membuat saya terharu biru.
YOU'LL BE IN MY HEART
'Cause you'll be in my heart
Yes, you'll be in my heart
Yes, you'll be in my heart
From this day on
Now and forever more
You'll be in my heart
No matter what they say
Now and forever more
You'll be in my heart
No matter what they say
You'll be here
in my heart always
Always
Peran bagi diri sendiri sebagai ibu adalah..., bisa menerima anak-anak kita apa adanya. Jadi apapun yang dikatakan orang lain tentang mereka jadikan peringatan namun jangan menghakimi mereka. Bekali mereka dengan apa-apa yang dibutuhkan dalam hidup, tanamkan nilai-nilai terbaik yang kita anut, penuhi hati mereka dengan cinta dan jadilah rumah sebagai tempat pulang yang menyenangkan bagi anak-anak.
Taburi hari-hari yang dilewati bersama dengan do'a-doa indah untuk mereka. Lalu mintalah pada Allah untuk memberikan perlindungan dan takdir yang terbaik untuk mereka. Cintailah anak-anak dan berikan pelukan tanpa batas waktu....

Comments
Post a Comment