Skip to main content

PARIS (bagian 1)

LALU LINTAS yang menarik dan MAKANAN HALAL
  
Setiap perjalanan mengunjungi bumi Allah, dimanapun adanya, tempat tersebut pasti memiliki budaya, kebiasaan dan karakter yang berbeda dengan kehidupan kita sehari-hari. Bepergian, sama artinya dengan apa saja yang kita kerjakan, hendaknya memiliki hal yang bermanfaat agar tidak sia-sia niat dan pemakaian rejeki yang dihabiskan untuk melakukan perjalanan tersebut. Setidaknya, itulah yang kami ingin tanamkan pada anak-anak setiap kali melakukan perjalanan. 

Ada kalanya jika diniatkan untuk menjadi perjalanan menyambung silaturahmi, mencari nilai-nilai untuk membuka pikiran dan juga mengenal lebih banyak keragaman agar terbiasa menerima perbedaan di sekitar kita, maka kita juga mendapatkan banyak hal seperti yang kita inginkan. Atau memperkenalkan anak-anak pada kehidupan nenek moyangnya di masa lalu, juga memberi keindahan tersendiri di dalam hati.

Kali ini kami menghabiskan waktu bersama anak-anak untuk menjelajahi keindahan Eropa dengan niat mengunjungi keponakan suami saya, yang artinya sepupu dari anak-anak. Dia menikah dengan warga negara Jerman dan mengundang keluarga untuk perayaan perkawinan mereka. Namun sayang, waktunya tidak bertepatan dengan liburan sekolah di New Zealand, sehingga kami baru bisa perdi di bulan Desember 2014 - January 2015.

Jerman, ya Allah, itu perjalanan yang bukan main jauhnya dari New Zealand!! Maka kami mengatur jadwal dan niat dalam satu perjalanan, yaitu kami katakan pada anak-anak bahwa kita semua akan  berkunjung ke Paris, lalu menjelajahi tempat tinggal orang tua saya alias kakek mereka di masa tahun 1987 - 1995 di Bremen, Jerman. Orang Jawa bilang "napak tilas". Selain itu kami akan bertemu dengan keluarga kakak ipar di Berlin dan terakhir akan menikmati kota London. Perjalanan panjang dari "down under" Auckland ke Eropa ini kami tetapkan untuk 3 minggu dan akan berakhir di Amsterdam.


Tapi, karena keinginan menikmati selayaknya "penghuni" kota-kota tersebut, tentunya ini tidak mudah menjalaninya. Terutama jika ingin benar-benar membuka diri untuk mengenal banyak hal, banyak usaha yang harus dilakukan untuk lebih membumi. Misalnya, mengenal, belajar dan memakai transportasi umum di tempat tersebut. Juga menjalani ritual seperti layaknya kegiatan sehari-hari yang penting seperti mencari tempat makan yang tepat, dan pergi sholat Jumat. Mari, kita mulai perjalanan   taddabur untuk menikmati bumi Allah yang lain dari Paris.

Tinggal di Paris selama 1 minggu, berarti harus pandas-pandai mencari makanan halal dan lokasi masjid untuk sholat jumat. Kami sampai di Paris pada tanggal 24 Desember dan  menyewa apartment di sekitar Eiffel Tower, dengan harapan bisa menikmati suasana kota, berjalan kaki di sekitar area atraksi turis dan juga melihat perbedaan kota Paris siang dan malam. 

Inilah beberapa cerita tentang kenikmatan tak disangka dari hasil berjalan kaki kemana-mana untuk melihat kehidupan yang lebih dekat dan nyata di tengah kota Paris. 

Masih ingat film Mr Bean yang suka parkir sambil mendorong-dorong mobil di depan dan belakangnya? Ya memang, itu kehidupan di London. Tapi tak disangka kami juga bisa menyaksikannya di pinggir jalan kota Paris........, dan ini sungguh membuat kami tertawa tak habis-habisnya. Cara parkir orang-orang di Paris, bukan main canggihnya, ditambah lagi yaaa... itu tadi...., kemahiran untuk bisa mendorong mobil lain ke depan atau ke belakang supaya muat untuk mobil yang sedang parkir. 

Mobil di Paris memang modelnya kecil-kecil, sejenis "city car" dan hampir semua mobil memiliki goresan dan "penyok-penyok" kecil. Sampai-sampai si Teteh bilang, kalau jangan-jangan mobil-mobil ini terbuat dari plastik. Hahahahahah....!! Tapi ini belum seberapa dibandingkan dengan cara sopir taksi mengendarai mobil. Kami pesan taksi melalui website yang semua konfirmasinya langsung bisa di dapat melalui hp, bahkan bisa memberitahukan jika sopir taksinya sudah ada di depan pintu.

Saat itu akhir pekan dan liburan Natal, maka sepanjang jalan kami menyaksikan begitu padatnya orang lalu lalang, mengular panjang di lampu penyebrangan dan mobil-mobilpun begitu penuh yang mengakibatkan kemacetan di jalanan. Awalnya sopir taksi kami terlihat sabar, tapi akhirnya kami saksikan kemahiran ala sopir bajaj di Paris. Menyelipkan mobil diantara mobil yang lain, menghindari kerumunan orang dan juga cara memutar dan membelokkannya dengan gaya yang aduhai. Kami pikir tadinya, itu cuma sopir taksi kami, ternyata taksi yang kami tumpangi di perjalanan pulang juga mempunyai keahlian yang sama dengan sopir-sopir Jakarta dan kemampuan parkir dengan memutar baliknya juga menimbulkan decak kagum. Bahkan saya tak menyangka ada taksi lain berhenti di depan kami yang bisa menyerobot tempat parkir dengan cara berputar dan berhenti yang menurut kami "luar biasa". Bagi kami ini sungguh suatu hiburan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.

Lucunya, tidak seorangpun diantara kami yang merasa terganggu. Malahan  sangat menikmatinya, bisa  saling tatap dan senyam-senyum sendiri di perjalanan, bahkan akhirnya menjadi pembicaraan yang sangat mengasyikkan selama di meja makan saat di restoran halal yang kami booking melalui aplikasi di iPhone, the Fork . Di aplikasi ini pula reservasi bisa di "cancel" atau bahkan untuk beberapa restoran bisa  pesan makanan langsung dari aplikasi tersebut. Nikmat rasanya bisa makan " French fine dining" HALAL di tempat yang nyaman. Sepulang dari tempat makan, pembicaraan tadi masih berlanjut sampai ke apartment dan bahkan  menjelang tidur. 

Maklumlah sebagai orang Indonesia yang lama tinggal di Jakarta, mungkin kami kangen juga dengan situasi seperti itu, sehingga hal-hal seperti ini bisa jadi pembicaraan yang membahagiakan. Tapi jadi sempat juga tercetus kalimat bahwa, "Apa jangan-jangan di New Zealand lalu lintasnya masih terlalu tertib ya? Jadi kesannya monoton". Alamaaaak, gawat ini. Hahahahah. 

Hal lain yang membuat saya langsung suka dengan kehidupan di Paris adalah NUTELLA ada di segala jenis makanan. Ya, saya memang penggemar nutella dan amat sangat menikmatinya. Segala macam jajanan di pinggir jalan hampir selalu punya nutella coklat sebagai pilihan rasa. Crepes nutella, waffle nutella sampai cookies nutella ada dimana-mana dan di setiap sudut kota.

Selain Nutella, kami juga merasakan bahwa daging halal begitu mudah ditemukan di beberapa mini market sekitar apartment saat kami ingin belanja telor dan keperluan särapan. Kami tunggal di apartment Charles De Floquet, yang jaraknya bisa jalan kaki dari Menara Eiffel. Di mini market tersebut ada luncheon, sosis dan "fancy meats" lain disitu. Kadang saya merasa bahwa hidup sudah dimudahkan Allah dengan cara seperti ini, yaitu sama sekali tidak  perlu mencari-cari secara khusus untuk bisa makan makanan yang halal. Yang pasti, indomie selalu ada di koper walaupun cuma beberapa buah saja. Indonesia gitu loh! 

Sekarang mari kita pindah ke tempat lain, yaitu shopping area yang paling terkenal di Paris,  yaitu Champ Elysées. Di area ini Zaky ingin ke tempat souvenir club sepak bola Paris Saint Germain dan Tetehnya ingin ke Ladurée, yang konon adalah tempat macarons paling top, walaupun di Auckland sebetulnya saya sudah cukup puas dengan macarons yang biasa saya beli McDonalds. Tapi menurut si Teteh, anak sulung saya, "Kan kita lagi di Paris? Ya kenapa ngga coba bu". Hayyyaaahh. Baiklah neng cantik..., kita liat antriannya sepanjang apa. 


Maka, berangkatlah kami ke Champ Elysées dan benarlah adanya, ternyata antrian panjang yang kami saksikan di toko souvenir klub sepak bola Paris Sain Germain. Tapi karena di sekitar kami penuh lampu-lampu yang menarik karena suasana natal dan tahun baru, dan sejak kami datang bahkan sepanjang jalan begitu penuhnya kota Paris dengan orang yang tumpah ruah di manapun kami berjalan, maka antrian ini tak terlalu merisaukan kami. Apalagi ternyata masuknya dibagi per group dan rata-rata berlangsung cepat. 

Ini yang menyenangkan, kecepatan ini bisa berlangsung karena ternyata orang-orang pada umumnya juga sudah mengetahui apa saja yang akan dibeli oleh mereka. Sehingga jarang sekali yang hanya melihat-lihat. Mereka langsung cari barang yang diinginkan, ambil, bayar. Zaky juga hanya meminta sebuah syal dan kaos jersey. Sayangnya, yang memiliki nama punggung pemain favoritnya, Ibrahimovic, tidak ada. Sehingga dia agak kecewa karena kaosnya tidak bertuliskan nama tersebut.

Jalan kaki berlanjut ke Ladurée. Namanya yang terkenal itu membuat anak gadis saya ingin sekali memasuki tempat ini. Awalnya saya agak putus asa, karena kembali melihat antrian panjang. Apalagi di dalam benak saya kalau menunggu orang makan pasti akan lama. Ternyata ada 2 pintu untuk mengantri. Satu pintu untuk antrian macaroons dan bakery, dan satu lagi untuk ke restoran dan cafe nya. Tentu saja antrian di pintu bakery tidaklah selama antrian restoran. Jadi kembali lega dan merasa beruntung rasanya bisa masuk dengan cepat. Maklumlah, berdiri menunggu di musim dingin dengan suhu sekitar 2-4 dejad Celcius memang tak nyaman. Berjalan lebih menyenangkan daripada berdiam diri seperti itu.

Waktu cerita ini saya sampaikan ke teman-teman yang pernah pergi ke Paris, mereka terheran-heran kami bisa masuk dengan cepat. Karena berdasarkan cerita mereka, biasanya perlu waktu cukup lama untuk bisa masuk. Hmmmm...., apa mungkin karena kami datang sekitar jam 7 malam ya? Makin malam jalan-jalan dan pertokoan ini memang semakin padat. Tapi kami sudah lama tinggal di New Zealand, sehingga rasanya tidak bisa membayangkan lagi, bahwa lautan manusia sebanyak dan sepenuh ini akan bisa lebih padat lagi. Karena dimana-mana kami berjalan kaki di pusht kota dan padatnya manusia di bulan Desember, jadi serasa di pasar malam Pekan Raya Jakarta (PRJ). Kami hanya bisa berjalan pelan, lambat dan tempat-tempat penyebrangan yang kami lewatipun seperti ribuan laron bertebaran. Entahlah, ini biasa terjadi sehari-hari di Paris atau hanya terjadi di masa liburan seperti ini? Barangkali jawabannya yang lebih tepat yang terakhir ya.

Berjalan kaki di musim dingin, juga cepat sekali membuat perut kami merasa lapar. Sebelumnya, anak-anak sudah membiasakan diri mencari informasi tempat-tempat makanan halal yang akan dilalui oleh kami dan sebelumnya kami temukan bahwa ada beberapa restauran yang HALAL di sekitar kami. Sehingga ini juga sudah dimasukkan dalam jadwal aktifitas malam ini. Maka mampirlah kami di lokasi terdekat. Ya Allah, memang makan di saat lapar itu rasanya paling nikmat. Selain itu, bis yang bisa langsung mengantar kami ke depan apartemen juga terletak di depan restoran tersebut. Jadilah ini kenikmatan lain yang memudahkan sekaigus menyenangkan. Pulang pergi dengan cara yang nyaman, mudah dan murah di udara dingin. 

(Bersambung - Paris bagian 2)







Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

BREMEN - MENAPAKI KENANGAN MASA LALU

                                                                  BREMEN, JERMAN SAKSI KEJAYAAN TEMBAKAU JEMBER DI EROPA Setelah kisah perjalanan kami dalam tulisan  Paris 1 dan Paris 2 , maka yang berikutnya kami menuju Bremen.  Maaf ya, kalau terlalu jauh penulisannya sebelumnya. Begitu banyak yang harus di prioritaskan, namun saya tetap kembali kesini akhirnya. Terima kasih buat yang sudah menunggu-nunggu tulisan berikutnya. Saya selesaikan tulisan perjalanan kali ini sekaligus,  untuk Bremen dan Berlin. Bremen adalah kota kecil yang tenang dan amat menyenangkan di Jerman. Tempat yang cantik, dimana orang tua saya menghabiskan sebagian waktu bersama adik-adik saya selama kurang lebih 8 tahun karena bapak saya  dipindah tugaskan ke sini sejak 1988 hinga beliau pensiun dan kembali ...

BAHASA IBU, BAHASA KELUARGA

Banyak yang mengatakan bahwa setiap anak berbicara dengan bahasa yang dimiliki ibunya, sehingga seringkali kita terbiasa dengan istilah bahasa Ibu atau dalam bahasa Inggris di sebut dengan "mother tongue". Entahlah, mengapa tidak disebut bahasa ayah. Barangkali memang ibu-ibu yang lebih sering ditempatkan sebagai pendidik di rumah, sehingga di dalam islam sering disebut bahwa ibu adalah madrasah keluarga dan menurut hasil riset ini , anak mendapatkan IQ dari genetik ibunya. Wallahu allam. Tumbuh di negara seperti Indonesia yang memiliki banyak bahasa daerah yang tetap dihidupkan oleh para orang tua yang memiliki bahasa tersebut pada awalnya saya merasa biasa saja. Dulu tak pernah merasa istimewa berbahasa Jawa di rumah dan saat berinteraksi dengan teman, lalu tanpa kesulitan kami semua berganti secara otomatis dengan berbahasa Indonesia saat di sekolah, membaca buku dan menonton televisi.  Keistimewaan "switch coding" tanpa kesulitan ini terlihat dan m...

TETEH, IBU MERTUA SAYA dan SAYA

Si  Tetèh, nama p anggilan Sunda di keluarga Jawa Anak perempuan kami, yang biasa kami panggil  Tetèh  seringkali begitu banyak mengingatkan saya pada ibu mertua. Kalau dilihat dari panggilannya saja, kata  Tetèh  sama sekali tidak ada hubungannya dengan asal-muasal saya yang keturunan Jawa asli. Sehingga kadangkala agak membingungkan teman-teman saya. Lebih mengejutkan lagi, jika bertemu dengan orang-orang yang baru mengenal saya dan terlanjur berbicara dengan saya dalam bahasa Sunda. Setelah yakin dan mengira saya asli Sunda..., eh ternyata di akhir cerita mereka bingung bahwa saya bukan Sunda, tapi punya anak dengan panggilan  Tetèh. Beginilah ceritanya. Memang saya adalah orang Jawa dan menikah dengan suami yang  keturunan Jawa-Sunda. Mertua saya almarhum sebetulnya memang orang Jawa asli, namun lama tinggal di Bandung. Sehingga hampir semua ke "Jawa"an beliau sudah banyak yang luntur. Sementara almarhumah ibu mertua saya adalah wa...