KEUNIKAN dan KEBIASAAN MEMBACA
Di RUMAH
Membaca.., memang sepintas hanya masalah tentang membaca. Tapi...., pernahkah terpikirkan bahwa menyatukan kebiasaan membaca dua orang yang berbeda dalam perkawinanpun bisa menjadi kisah tersendiri dalam menularkannya pada anak. Kisah nyata yang bisa juga manjadi pengalaman menarik dan penuh warna. Seru juga lho... Yuuuk, coba lihat di keluarga kami.
Jika dikaji dari kata per kata, membaca dalam Islam bukanlah anjuran, tetapi sebuah perintah. Membaca adalah pintu ilmu pengetahuan, membaca membuka wawasan dan membaca adalah kenikmatan menjelajahi dunia.
“Bacalah
dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah,
dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah.
Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.
Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
(QS. Al ‘Alaq :1-5)
Membaca adalah hal yang menyenangkan untuk saya. Saat membaca adalah tempat untuk menyepi, menyelami dunia lain dan membawa kita sebagai pembaca ke suasana yang berbeda. Setiap buku selalu membawa saya seakan menjelajah ke suatu tempat yang tak terbayangkan. Saat masih kecil, membawa khayalan dan saat remaja bisa menjadi perbincangan untuk menjalin persahabatan karena diskusi menarik dengan teman-teman yang memiliki kebiasaan yang sama. Pertemanan karena bertukar pikiran tentang sang penulis buku, cerita yang tidak pernah kami alami atas petualangan demi petualangan. Mulai dari kesedihan perang, suku Indian Amerika yang hilang perlahan, romantisme cinta, kekerasan persaingan di tempat kerja, sampai masalah psychology, pembunuhan dan kisah para penegak hukum.
Penulis Indonesia favorite saya jaman dulu seperti, Hilman (Serial Lupus dan novel Tangkaplah Daku, Kau Kujitak), Buya Hamka (Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck & Di Bawah Lindungan Ka'bah), Marga T (Karmila dan Badai Pasti Berlalu) hanyalah beberapa diantaranya. Saking gilanya membaca, bahkan karya Marah Rusli (Siti Nurbaya) pun saya baca. Badai Pasti Berlalu adalah buku yang saat itu sedang popular karena kisah cinta yang menarik. Saya sempat ragu-ragu menonton film nya karena takut kecewa. Seingat saya, gara-gara pengalaman dan kecintaan pada komik Batman, saat menonton film nya telah membuat saya kecewa. Namun dengan berjalannya waktu, saya lebih realistis bahwa memang harus disadari bahwa khayalan kita saat membaca buku terpotong dan tidak bisa selalu divisualisasikan sama dalam film. Memang tak mudah menuangkan imajinasi seorang penulis ke dalam film.
Jujur saja, seringkali saya tak ingin menonton film yang dibuat berdasarkan buku atau novel yang laris. Selain perasaan takut kecewa tadi karena banyak imajinasi yang harus dipotong dan terbuang, saya juga takut kehilangan kenikmatan yang sudah terbentuk saat membaca. Tetapi jika saya belum membaca bukunya, dengan senang hati saya akan menonton. Jadi, bisa ditebak....., saya tidak pernah nonton film LUPUS.
Penulis non Indonesia banyak memberi gambaran dan cara pandang yang berbeda. Saya penggemar buku-buku historical dan science fictions, adventure dan psychology. Pada buku-buku tersebut banyak sekali hal nyata yang menjadi acuan penulisan tetapi bisa menjadi sebuah cerita imajinatif. Ini memperkaya pengetahuan saya tentang budaya dan kebiasaan-kebiasaan yang tak ada di lingkungan saya selama ini. Kadangkala amat susah berhenti untuk membaca kisah petualangan horor tentang aborigin di Australia saat mereka di buru untuk dibunuh di savanah seperti tulisan Edgar Allan Poe, dan juga persahabatan antara Winnetou dan Old Shatterhand di buku Karl May atau kisah-kisah fiksi ilmiah berseri yang menakjubkan seperti tulisan Jules Verne, atau cerita detektif Franklin W.Dixon (Hardy Boys) dan Enid Blyton (The Famous Five). Kebiasaan membaca saya di masa lalu sungguh mengkhawatirkan ibu saya, karena membaca bisa membuat saya tidak keluar kamar seharian, jarang bergaul dan hanya bersosialisasi saat di sekolah karena acara olah raga, musik dan kegiatan sejenisnya.
Orang mengenal suami saya karena cara bicara, perhatiannya dan perkerjaan. Sedangkan saya dikenal orang melalui aktivitas yang saya jalani. Jika akhirnya saya memiliki pertemanan, itu pasti karena adanya suatu peristiwa, pesamaan minat atau buku. Mengalir begitu saja, menjadi teman dan bertahan lama. Selama tak ada hal yang terlalu besar dan menyakitkan satu sama lainnya, biasanya pertemanan itu tak pernah pudar. Jadi saya memiliki teman-teman yang memang saat bertemu jarang sekali membicarakan orang lain. Pembicaraan biasanya tentang tokoh dalam buku, cerita dalam film, kegiatan tertentu, pekerjaan atau bertukar pikiran mengenai bahan kajian-kajian agama, makanan sehat atau kelas parenting yang kami datangi. Saya jadi mengenal mereka dan kedekatan terjadi karena kebiasaan saja dan tanpa beban. Kami saling membantu saat diperlukan dan saling menghibur saat susah.
Dalam pernikahan kami, bahan pembicaraan tersebut memang perlu disesuaikan, karena suami saya lebih mengenal Bill Gates dan kisah masa kecil Einstein, daripada Around The World in 80 days dan kisah Huckleberry Finn. Tentu saja dia tahu WS Rendra, tapi puisi-puisi Rendra sayalah yang lebih kenal. Film? Dia tidak tahu siapa bintangnya dan main di film apa. Kecuali yang super populer, seperti film Grease atau Galih dan Ratna. Pasti tahu lah Hahahahah....., ya ampun!! Oh ya, semua berita televisi juga tak pernah dilewatkan dan dia juga penggemar sinetron yang masih mendekati kenyataan, seperti Si Doel Anak Sekolahan. Kalau sinetron yang menjual mimpi...., sudahlah... tak mungkin bisa dinikmati oleh bapak yang satu ini. Apalagi di tanya siapa pemainnya. Bingung....
Setelah menikah, suami membawa saya hijrah ke Jakarta, ke tempat asalnya. Di tempat baru, saya tak ada waktu untuk bersosialisasi karena langsung bekerja. Memusatkan perhatian di tempat baru, membina karir, punya rumah baru, lengkap dengan cicilan pembayarannya, belum lagi menyesuaikan diri dengan keluarga suami, menyebabkan kegiatan membaca jadi terasa begitu mewah karena keterbatasan waktu. Barulah 4 tahun kemudian, saat hamil putri kami yang pertama, hidup saya kembali mencari-cari rutinitas untuk kembali membaca. Kebiasaan membaca buku baru terasa lagi nikmatnya, karena banyak jadwal yang sengaja disisihkan untuk senam hamil yang diteruskan dengan membaca majalah-majalah parenting dan buku-buku kehamilan. Setiap fase kehamilan sampai akhirnya melahirkan sungguh menjadi ilmu baru. Ilmu tentang bayi, makanan sehat dan juga cara-cara menangani kesehatan kita sebagai ibu, lalu sang bayi dan anak.
Alhamdulillah, kami diberikan amanah 2 orang anak. Putri kami lahir di Jakarta sekitar 22 tahun yang lalu, dan satu lagi lahir di Auckland, setahun setelah kami berhijrah ke New Zealand. Jarak mereka 11 tahun. Sejak memiliki anak, saya selalu membacakan buku untuk mereka sebelum tidur, kira-kira sampai umur 9 atau 10 tahun. Kegiatan ini mengakibatkan saya jarang bisa pergi malam, niat dan keinginan saya bersama mereka jauh lebih penting daripada pergi ke acara apapun. Jam tidur mereka adalah saat kebersamaan yang tak akan terulang. Uniknya, sekalipun saya berikan kebiasaan yang sama pada mereka dalam rutinitas membacakan buku sebelum tidur, dan sama-sama membiarkan mereka memilih buku yang disukai. Kedua anak kami bukan hanya berbeda jenis kelamin, tapi juga berbeda dalam cara mereka membaca buku.

Anak-anak kami dua-duanya adalah pembaca cepat. Namun dari perbedaan artikulasi saat memulai kata-kata pertama dalam bicara, memang benar bahwa itu membuktikan cara kerja otak setiap anak memiliki kemampuan yang berlainan.
Ayya seperti anak normal, mulai bicara dengan bahasa bayi, membaca dengan cara anak-anak seumurnya dan tertidur lelap saat dibacakan buku sebelum tidur. Setelah mulai bisa membaca sendiri, buku-buku favouritenya masih terlihat amat rapi dan terawat walaupun telah dibaca berkali-kali. Bahasa Inggris nya terasah saat di Jakarta seringkali memilih komik Archie. Komik lain yang disukainya adalah detektif Conan. Sampai sekarang buku-buku yang dikoleksinya sejak berumur 8 tahun itu masih ada, dan saat lulus dari Westlake Girls High School, dia ingin mendonasikan ke perpustakaan, namun rupanya sang adik jatuh cinta dengan komik Archie, maka dia pindahkan buku itu dari gudang ke kamarnya.
Zaky adiknya tak pernah sekalipun berbicara dalam bahasa bayi sejak mulai bisa mengucapkan kata. Artikulasinya amat jelas dan kemampuannya mengolah buku yang dibacanya juga tidak biasa. Dia tak pernah menyukai buku cerita fiksi. Jika dia embaça buku fiksi, dia akan berusaha mencari tahu bagaimana cerita itu dibuat, mengapa dan latar belakang penulisnya. Sejak berumur 4 tahun, sebelum bisa membaca dia telah mencari tahu berbagai hal tentang pesawat terbang dari History Channel. Alhasil sejak itu, setiap kali bepergian saya kebagian cerita tentang pesawat terbang, mulai dari cara kerja rodanya, sayap dan lain-lain. Berusaha menjadi ibu yang baik, saya mencoba bertahan untuk menjadi pendengar yang antusias sejak mulai duduk, sampai pesawat kami mendarat.
Selanjutnya, sejak berumur 5 tahun, dia mulai belajar membaca dan hampir seluruh waktu istirahatnya di sekolah dia habiskan untuk ke perpustakaan sekolah. Dia mulai membaca buku-buku sejarah perang. Perang dunia, Samurai, kisah perang Genghis Khan, Hittler, kerajaan Ottoman, Romawi bahkan tahu setiap jenis pesawat tempur dan kendaraan perang lain di tiap era. Bahkan setelah umurnya 8 tahun, saya bukan lagi pembaca cerita baginya, tapi malah beralih, karena dialah yang menceritakan apa saja yang dibacanya hari itu pada ibunya sebelum tidur. Ya Allah..., kadang-kadang malah saya yang berusaha menahan diri untuk tidak jatuh tertidur karena begitu panjangnya cerita seakan-akan seluruh buku yang dibacanya hari itu ingin diceritakannya pada saya. Tapi saya seringkali takjub, bahwa ternyata banyak juga ilmu dan pengetahuan baru untuk saya. Ibu yang belajar pada anak, membaça dan diskusi bersama.
Setiap anak memiliki keunikan, itu benar adanya. Ayya dan Zaky telah memiliki perbedaan yang cukup mencolok. Di rumah, anak-anak harus tetap berbahasa Indonesia karena kami tinggal di New Zeland yang berbahasa Inggris. Agar tak hilang, kami berusaha bicara sebanyak mungkin di rumah dengan bahasa Indonesia. Ayya berbicara dengan logat Jakartanya yang kental. Zaky, karena sepupu yang sebaya tinggal di Surabaya, maka logat Jawa lah yang lebih sering terbawa dalam bahasa Indonesianya.
Lagi-lagi, buku menyelamatkan perjuangan dan usaha ini. Saat kami di berlibur ke Indonesia, Zaky sering membawa buku The Adventure of Tintin kemanapun dia pergi. Pak De nya yang bernama pak de Ace di Jakarta, melihat kebiasaan ini dan memberinya buku-buku yang sama, tetapi dalam bahasa Indonesia. Sungguh lucu jadinya. Kami melihat dia berusaha membaca buku-buku tersebut bergantian dengan yang berbahasa Indonesia. Seringkali satu judul dibaca berminggu-minggu. Ganti-ganti antara Inggris dan Indonesia. Dugaan kami...., dia sedang mencocokkan kata-kata disitu dan mengingat-ingat ucapan-ucapan di bukunya. Tapi berhasil..., kosa katanya meningkat pesat dengan bantuan buku ini.
Jadi, begitulah kebiasaan membaca di keluarga kami, unik dan semua punya gaya serta kebiasaan yang berbeda. Hal yang paling penting adalah, kebiasaan membaca mempengaruhi hidup kita, sehingga saya berusaha tidak membawa buku yang merusak moral anak-anak. Majalah yang saya bawa ke rumah adalah tentang desain rumah, tanaman, nutrisi, kesehatan dan sejenisnya. Majalah gosip seringkali agak vulgar fotonya dan isinya pun tak terlalu bermanfaat, jadi saya hindari. Jika ada bacaan menarik, saya bagikan pada anak-anak untuk dibaca bersama. Jadi ada alaskan lagi untuk berdiskusi, terutama tentang hal-hal yang sensitif seperti agama, sex dan pergaulan bebas. Kami amat terbuka saat berdiskusi, tetapi saya berusaha menahan diri untuk menjelaskan sesuai umurnya dengan mendengarkan dahulu untuk menakar pengetahuan mereka sebelum menjelaskan. Cobalah...., ini sungguh menyenangkan dalam menjalin kebersamaan dengan anak.
Follow untuk mengikuti kisah seru lainnya di keluarga kami





Comments
Post a Comment