NAMA dan IDENTITAS
Hadis Rasulullah SAW. Beliau berkata,
“Anak-anak memiliki tiga hak atas ayah mereka. Yang pertama adalah mereka diberi nama baik. Yang kedua, mereka diberikan pendidikan yang baik; dan yang terakhir, mereka membantu mereka memilih pasangan yang baik,”
(Ibnu Najjar).
Bahasa Indonesia itu keren. Semakin saya belajar khusus bahasa asing, semakin kagum dengan bahasa asal negeri Nusantara. Bahkan sejak pindah ke Auckland, New Zealand, saya senang bisa langsung mengenali nama khas dan asli Indonesia. Saat itu tahun 2005, Teteh yang saat itu masih berumur 10 tahun, kedatangan teman main, disebutnya "play date" kalau disini. Dari namanya, saya bilang kalau bapaknya pasti orang Indonesia. Teteh bilang, ngga mungkin temannya berdarah Indonesia, karena mukanya yang "bule" itu, tapi saya bilang bahwa nama temannya itu khas sekali. Saat mengantar memang ibunya bule. Waktu jemput, naaaaahhh......., benar dugaan saya, kalau bapaknya orang Indonesia.
![]() |
| Foto: Keraton Cirebon Kasepuhan |
Jaman dulu saat orang tua memberi nama pada anak-anaknya, rasanya mungkin tak terpikir bahwa itu akan menjadi karakter budaya dan identitas jika keturunan mereka sampai berhijrah ke negara lain. Tapi itulah kenyataan indah yang ada. Nama kita mewakili budaya dan bahasa kita dan bisa menjadi identitas pribadi. Itu terjadi saat saya menonton pertandingan olah raga di Auckland. Teman baik Zaky berasal dari Johannesburg, South Afrika. Jadi kami, orang tua yang sedang menonton pertandingan melihat nama-nama di papan elektronik malah sibuk bilang, nah itu nama Afrikaan atau eh..., ada orang Indonesia. Lho kok tahu? Iya itu namanya, ngga mungkin orang dari Singapore, Brunei atau Filipina lah.
Lahir dan tinggal di Indonesia, di lingkungan Jawa, saya merasa bahwa nama kami semua berakar pada budaya Jawa dan Indonesia. Misalnya, dari Jawa ada Suparto, Suparyono, Margono, atau Trend di masa itu, bahasa Jawa banyak dipengaruhi Hindu dan nama-nama dalam bahasa Sansekerta (Sanskrit) seperti Diah, Tri, Dewi, Santi, Sapta, Purwanto, Purwanti, Sri dan sejenisnya. Dari Sunda (walaupun masih Jawa juga) namanya Kartamiharja, Kartajumena.
Beberapa teman memiliki nama sesuai bulan kelahiran, misalnya Januar lahir bulan Januari, Febriana dan Febriani biasanya lahir di bulan Februari, Yuni, Yuniati bulan Juni. Agustiningsih dan Agustina yang lahir bulan Agustus, dan yang paling umum Novi, Novianti, Noval atau Novianto yang lahir bulan November dan seterusnya.
Nama-nama dari daerah memang mudah dikenali. Misalnya dari Sumatra, nama Aceh dan Batak hampir dipastikan langka bagi kita untuk salah menebak, karena nama marga Manurung, Lubis, Tambunan, Siregar memang hanya orang Batak yang punya. Bahkan nama yang berasal dari Sulawesi, nama marga Minahasa seperti yang banyak dirubah oleh Belanda saat para misionaris datang ke Menado masih mudah untuk dikenali, seperti Bastian Saway, Matinus Dotulong, Frederik Lumingkewas. Sedangkan nama Gorontalo yang nama depannya juga banyak diganti untuk digabungkan dengan nama Islam dan kita dapat mengenali nama marga yang unik dan cantik, seperti Sandiaga Salahudin Uno, Lukman Niode, Jusuf Sjarif Badudu (Jus Badudu).
![]() |
| Foto: Keraton Cirebon Kasepuhan |
Namun yang terpenting adalah, jangan lupa memberi nama-nama yang baik untuk anak-anak kita. Agar anak yang menyandang nama tersebut senang, bahagia, bangga dengan nama mereka. Diriwayatkan oleh Abu Darda dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW. Beliau berkata,
“Sesungguhnya pada hari kiamat nanti kalian akan dipanggil dengan nama-nama kalian dan nama-nama bapak-bapak kalian. Oleh karena itu, buatlah nama-nama yang baik untuk kalian.”
(HR. Abu Daud)
Kalau mungkin, jangan hilangkan nama khas keluarga dari tempat asal.


Comments
Post a Comment